Rabu, 16 November 2011

KH. CHOLIL - MADURAatau terkenalnya (MBAH) SYEKH KHOLIL

Di desa Langgundih, Keramat, Bangkalan, adalah seorang Kiai berbangsa Sayyid
bernama Asror bin Abdullah bin Ali Al-Akbar bin Sulaiman Basyaiban. Ibu Sayyid
Sulaiman adalah Syarifah Khadijah binti Hasanuddin bin Hidayatullah (Sunan
Gunung Jati). Beliau dikenal dengan “Kiai Asror Keramat”, dinisbatkan pada
kampung beliau. Kemudian oleh sebagian orang dirubah menjadi “Asror Karomah”,
mungkin dalam rangka meng-arab-kan kalimat “Keramat”. Beliau menurunkan
ulama-ulama besar Madura dan Jawa.

Kiai Asror memiliki putra dan putri. Diantara mereka adalah Kiai Khotim, ayah
dari Kiai Nur Hasan pendiri Pesantren Sidogiri Pasuruan. Diantara mereka pula
adalah dua orang putri yang sampai kini belum diketahui nama aslinya melalui
riwayat yang shahih. Salah seorang dari mereka dinikahkan dengan Kiai Hamim bin
Abdul Karim Azmatkhan yang bernasab pada Sunan Kudus (garis laki-laki) dan
Sunan Cendana (garis perempuan).

Melalui Kiai Abbas, Kiai Asror memiliki cucu bernama Kiai Kaffal. Dan melalui
Kiai Hamim, beliau memiliki cucu bernama Kiai Abdul Lathif. Kiai Abdul Lathif
memiliki putri bernama Nyai Maryam dan Nyai Sa’diyah. Kemudian Nyai Maryam
dinikahkan dengan Kiai Kaffal dan Nyai Sa’diyah dinikahkan dengan seorang Kiai
dari Socah, Bangkalan.

Kiai Abdul Lathif adalah seorang da’i keliling. Beliau menjalani kehidupan sufi
yang tidak menghiraukan hal-hal keduniaan. Apalagi sepeninggal istri beliau, Ummu
Maryam (ibu Nyai Maryam), sejak saat itu beliau lebih aktif da’wah ke
kampung-kampung, beliaupun jarang pulang ke rumah karena putri-putri beliau
telah bersuami dan telah mandiri.

Pada suatu hari, setelah beberapa tahun Kiai Abdul Lathif tidak pulang ke
rumah, tiba-tiba beliau datang dengan membawa seorang anak laki-laki kira-kira
berumur tujuh tahunan. Kiyai Abdul Lathif berkata pada Nyai Maryam: “ Wahai
Maryam, Aku telah menikah lagi dan ini adalah adikmu. Kutinggalkan ia bersama
kalian, didiklah dia sebagaimana aku mendidikmu.” Setelah itu Kiyai Abdul
Lathif pergi lagi sebagaimana biasa. Tidak ada yang tahu kapan persisnya
kejadian itu, sebagaimana tidak ada yang tahu kapan persisnya Kiai Kholil di
lahirkan. Sebagian sesepuh keturunan Syeh Kholil ada yang memperkirakan bahwa
Syeh Kholil lahir pada tahun 1252 H, atau sekitar tahun 1835 M.

Cerita ini mengingatkan kita pada cerita Nabi Ibrahim AS. Bagaimana beliau
harus meninggalkan Isma’il, putra beliau yang masih bayi, di sebuah lembah yang
gersang (Makkah), sementara beliau harus pergi jauh ke Palestina untuk
menjalankan tugas da’wah. Siapa yang tidak sedih menyimak cerita ini, seorang
ayah yang bersabar meninggalkan anaknya yang masih kecil, padahal betapa
menyenangkannya memeluk, menatap dan bercanda dengan anak seusia Kholil kecil
saat itu. Demikian pula dengan Nyai Maryam, sebenarnya beliau sangat sedih
ditinggal oleh sang ayah. Di usia ayah yang mulai senja, inginnya hati Nyai
Maryam merawat sang ayah, mestinya sang ayah sudah waktunya istirahat. Namun
Nyai Maryam sadar, bhwa keluarga mereka adalah keluarga pengabdi pada agama,
tidak ada istirahat untuk berda’wah sampai ajalpun tiba, istirahat mereka
adalah di peraduan abadi bersama para leluhur mereka.

Menurut sebagian riwayat, sejak saat itu Kiai Abdul Lathif tidak pernah pulang
lagi, maka hari itu adalah hari terakhir beliau melihat Nyai Maryam dan putra
sulung beliau itu.

PENDIDIKAN

Nyai Maryam bersama sang suami, Kiai Kaffal, mulai merawat dan mendidik Kholil
kecil. Mengajarinya membaca Al-qur’an dan ilmu-ilmu dasar agama. Melihat
kecerdasan dan bakat Kholil kecil, Kiai Kaffal dan Nyai Maryam berpikir untuk
memondokkannya ke sebuah pesantren, agar Kholil kecil dapat menimba ilmu dan
terdidik lebih serius. Maka mereka pun memilih pesantren Bunga, Gersik, yang
diasuh oleh Kiai Sholeh itu.

Tidak beberapa lama kemudian setelah Kholil kecil mondok di Bunga, terjadilah
suatu peristiwa yang aneh. Ceritanya, suatu ketika Kiai Sholeh pulang dari
kondangan dalam keadaan lapar. Karena sudah waktunya shalat, maka beliaupun
meninggalkan bakul “berkat” (makanan oleh-oleh kenduren) diatas sebuah meja dan
bermaksud memakannya seusai shalat. Kiai Sholeh kemudian mengimami shalat di
musholla pesantren bersama santri-santri beliau. Ketika sedang shalat itu, tiba-tiba
ada suara anak-anak tertawa cekikian di belakang Kiai Sholeh. Setelah shalat
selesai, Kiai Sholeh bertanya dengan nada marah “Siapa yang tertawa tadi?” Maka
berkatalah salah seorang santri: “Ini, Kiai, bocah dari Madura ini yang
tertawa.” Setelah selesai dzikir, Kiai Sholeh memanggil bocah Madura yang tidak
lain adalah Kholil kecil itu. Kiaipun memerahinya dan memukul kakinya dengan
tidak terlalu keras seraya berkata: “Jangan ulangi lagi, ya?! Kalau waktu
shalat jangan bergurau!”. Maka Kholil kecilpun berkata: “Tapi, Kiai, saya tidak
bergurau, kok. Saya tertawa karena saya melihat Kiai shalat sambil berjoget dan
di kepala Kiai ada bakul nasinya.” Mendengar kata-kata Kholil kecil itu, Kiai
Sholeh menjadi terkejut dan heran, beliau teringat bahwa ketika sedang shalat
tadi beliau memang sedang memikirkan nasi berkat, beliau sempat hawatir karena
lupa tidak menitipkan nasi berkat itu, beliau hawatir nasi itu ada yang
memakannya, karena beliau sedang sangat lapar dan di rumah beliau tidak ada
makanan lagi selain nasi berkat itu. Menyadari hal aneh itu, Kiai Sholeh yakin
bahwa Kholil kecil bukanlah anak sembarangan. Keesokan harinya, Kiai Sholeh
mengajak beberapa santri pergi ke Bangkalan untuk Menemui Kiai Kaffal. Setibanya
di rumah Kiai Kaffal, Kiai Sholeh langsung berbicara mengenai Kholil kecil.

“Kiai Kaffal, sebenarnya Kholil ini anak siapa?” Tanya Kiai Sholeh.
“Dia anak mertua saya, yaitu Kiai Abdul Lathif. Jadi dia adik ipar saya,
saudara istri saya dari lain ibu.” Jawab Kiai Kaffal.
“Lalu di mana Kiai Abdul Lathif sekarang?”
“Tidak tahu, Kiai, beliau memang jarang pulang, beliau suka keliling ke
kampung-kampung untuk berda’wah. Beliau menyerahkan Kholil kepada kami.”
“Kiai Kaffal, Kholil itu adalah anak yang luar biasa. Saya rasa, saya kurang
pas untuk mendidik dia. Cari saja Kiai lain yang lebih mumpuni dari saya.”

Demikianlah inti pembicaran Kiai Sholeh dengan Kiai Kaffal. Maka Kiai Kaffal
pun menjemput Kholil kecil dari Bunga. Tidak beberapa lama kemudian Syekh
Kholil dimondokkan di Pesantren Cangaan, Bangil, Pasuruan, yang di asuh oleh
Kiai Asyik.
Beberapa tahun kemudian, Kholilpun sudah menginjak remaja dan ia pindah ke
Pesantren Kebon Candi Pasuruan yang diasuh oleh Kiai Arif. Kholil muda belajar
dan tinggal di Pesantren Kebon Candi, namun sambil belajar pada Kiai Nur Hasan
Sidogiri. Setiap berangkat ke Sidogiri, beliau jalan kaki dari Kebon Candi yang
berjarak kurang lebih tujuh kilo meter. Dalam Perjalanan, baik pergi maupun
pulangnya, beliau membaca yasin empat puluh kali.
Tiga Pesantren itu adalah tempat-tempat belajar Syekh Kholil yang diriwayatkan
dengan akurat dan shahih. Selain itu, ada beberapa riwayat bahwa beliau juga
pernah mondok di dua tempat lain, yaitu Pesantren Langitan dan Pesantren
Banyuwangi. Namun Menurut Kiai Kholil bin Abdul Lathif bin Muhammad Thoha bin
Kaffal, sebagaimana yang dituturkan Kiai Thoha Kholili, dua Pesantren itu tidak
dikenal oleh beliau sebagai tempat belajar Syekh Kholil. Waalahu a’lam.
Sejak kecil, sering terjadi hal-hal yang aneh pada Syekh Kholil. Sebenarnya Nyai
Maryam sudah sering melihat hal-hal aneh Syekh Kholil sejak beliau baru
diserahkan oleh Kiai Abdul Latif, namun Nyai Maryam tidak segera menceritakan
hal-hal aneh itu pada Kiai Kaffal. Setelah sering terjadi dan Nyai Maryam
hawatir terjadi apa-apa pada Kholil kecil, akhirnya Nyai Maryam bercerita juga
pada Kiai Kaffal, namun Kiai Kaffal justru menganggap hal itu sebagai pertanda
baik bagi Kholil kecil. Sampai usia remaja, hal-hal aneh sering terjadi pada
Syekh Kholil, baik di rumah maupun di pesantern.

Selama di Pesantren, Syekh Kholil terkenal sebagai santri yang rajin dan sabar.
Beliau menjalani hidup yang memprihatinkan, karena memang beliau nyantri dengan
hidup mandiri, tanpa ada yang membiayai. Karena beliau banyak memanfaatkan
waktu untuk belajar, beliaupun tidak sempat bekerja cukup untuk mendapat
makanan yang layak, dan akibatnya beliau harus makan makanan yang sangat tidak
layak, seperti makanan sisa, makanan basi yang telah dijemur, kulit semangka
dan sebagainya. Sebenarnya, hidup seperti itu tidak memprihatinkan buat Syekh
Kholil, karena beliau memiliki kebanggaan dan kenikmatan lain melebihi makanan
lezat dan hidup mewah, yaitu kenikmatan dan kebanggaan menuntut ilmu. Maka dari
itu, walaupun beliau menjalani hidup yang memprihatinkan menurut orang lain,
namun tidaklah memprihatinkan menurut beliau sendiri, wajah beliau tidak kalah
bersahaja dari pada teman-teman beliau yang hidupnya cukup atau berkecukupan.

Setelah cukup dewasa, Syekh Kholil bermaksud melanjutkan belajar ke Makkah
Al-Mukarramah.

Dalam buku “Surat kepada Anjing Hitam”, Saifur Rachman menulis bahwa sebelum
belajar di Makkah, Syekh Kholil belajar di Pesantren Banyuwangi. Saifur Rachman
Berkata: “Inilah Pesantren Kiai Kholil yang ditempuh di Jawa. Selama di
Pesantren ini Kholil santri mempunyai kisah tersendiri. Pengasuh Pesantren ini
mempunyai kebun kalapa yang sangat luas. Kholil santri menjadi buruh memetik
kelapa dengan upah 80 pohon mendapat tiga sen. Semua hasil memetik kelapa
disimpan didalam peti, lalu di persembahkan pada Kiai. Tentang biaya makan
sehari-hari, Kholil santri menjalani kehidupan prihatin. Terkadang menjadi
pembantu (khaddam) Kiai, mengisi bak mandi, mencuci pakaian dan piring serta
pekerjaan lainnya. Bahkan Kholil santri sering menjadi juru masak kebutuhan teman-temannya.
Dari kehidupan prihatin itu Kholil santri mendapat makan cuma-cuma. Sesudah
cukup di Pesantren itu, gurunya menganjurkan Kholil untuk melanjutkan
belajarnya ke Makkah. Uang dalam peti yang dahulu dihaturkan kepada Kiai,
kemudian oleh Kiai diserahkan kembali pada Kholil sebagai bekal belajar di
Makkah.

Riwayat ini sebenarnya tidak dikenal oleh sesepuh keturunan Syekh Kholil
sendiri. Namun hal itu masih dalam kategori “mungkin”. Kalau riwayat ini benar,
maka riwayat ini bisa disambung dengan riwayat keluarga Syekh Kholil, bahwa
pada suatu hari Syekh Kholil pulang menemui Nyai Maryam, tiba-tiba Syekh Kholil
Berkata: “ Kak, saya mau pamit berangkat ke Makkah.”

“Mau berangkat kapan, ‘Lil?” Tanya Nyai Maryam.
“Sore ini, kak.” Jawab Syekh Kholil singkat.

Sebenarnya ini suatu hal yang aneh, karena setahu Nyai Maryam, Syekh Kholil
tidak punya uang banyak untuk bisa ke Makkah, apalagi dengan mendadak seperti
itu. Namun Nyai Maryam sudah biasa mendapati hal yang aneh-aneh dari sang adik,
maka Nyai Maryampun percaya saja dan tidak menganggap hal itu sebagai hal yang
aneh. Maka Nyai Maryampun berkata: “Kalau begitu tunggu aku masak nasi dulu,
ya, ‘Lil. Kamu makan dulu sebelum berangkat.” Syekh Kholilpun menunggu sang
kakak memasak. Setelah makanan siap, Syekh Kholilpun makan dan kemudian pamit
berangkat ke Makkah. Menurut penuturan Nyai Maryam, Syekh Kholil berjalan ke
arah Barat dan Nyai Maryam menatap kepergian beliau sampai beliau tak terlihat.
Nyai Maryam tidak tahu persisnya Syekh Kholil berangkat naik apa dan dari mana.
Barangkali saja Syekh Kholil naik kapal dari Kamal atau dengan cara lain. Wallahu
a’alam

DI MAKKAH AL-MUKARRAMAH

Dalam buku “Surat Kepada Anjing Hitam”, Saifur Rachman menulis: “Selama dalam
perjalanan ke Makkah, Kholil selalu dalam keadaan berpuasa dan mendekatkan diri
kepada Allah. Siang hari banyak digunakan membaca Al-Qur’an dan shalawat,
sedangkan pada malam hari digunakan melakukan wirid dan taqarub kepada Allah. Hal
itu dilakukannya terus menerus sampai di Makkah. Setibanya di mekkah Kholil
segera bergabung dengan teman-temannya dari Jawa. Selama di Makkah Kholil
mempelajari pelbagai ilmu pengetahuan. Banyak para Syaikh yang Kholil datangi.

Selama menempuh pendidikan di Makkah, kebiasaan hidup sederhana dan prihatin
tetap dijalankan seperti waktu dipesantren Jawa. Kholil sering makan kulit
semangka ketimbang makanan yang wajar pada umumnya. Sedangkan minumannya dari
air zamzam, begitu dilakukannya terus menerus selama empat tahun di mekkah. Hal
ini mengherankan teman-teman seangkatannya, seperti Nawawi dari banten, Akhmad
Khatib dari Minang Kabau dan Ahmad Yasin dari Padang. Bahkan ketika bermaksud
buang air besar, Kholil tidak pernah melakukan di Tanah Haram, tetapi keluar ke
tanah halal karena menghormati Tanah Haram.

Didalam berguru, Kholil mencatat pelajarannya menggunakan baju yang dipakainya
sebagai kertas tulis. Kemudian, setelah dipahami dan dihafal lalu dicuci,
kemudian dipakai lagi. Begitu seterusnya dilakukan selama belajar di Mekkah.
Oleh sebab itu pakaian Kholil semuanya berwarna putih. Tentang biaya selama
nyantri di Mekkah Kholil menulis pelbagai risalah dan kitab kemudian dijual. Kholil
banyak menulis kitab Alfiah dan menjualnya seharga 200 real perkitab.

Terkadang memanfaatkan keahliannya menulis khat (kaligrafi) untuk menghasilkan
uang. Semua uang hasil penulisan risalah dan kitab kemudian dihaturkan kepada
gurunya. Kholil sendiri memilih kehidupan sangat sederhana. Kehidupan sederhana
yang ditempuhnya selama nyantri di mekkah adalah pengaruh kuat ajaran Imam Ghazali,
salah seorang ulama yang dikaguminya.

Dalam mengarungi lautan ilmu di Makkah, disamping mempelajari ilmu dhohir
(eksoterik), seperti tafsir, Hadits, Fikih dan ilmu nahwu, juga mempelajari
ilmu bathin (isoterik) ke pelbagai guru spiritual. Tercatat guru spiritual
Kholil adalah Syaikh Ahmad Khatib Sambas Ibnu Abdul Ghofar yang bertempat
tinggal di Jabal Qubais. Syaikh Ahmad Khatib mengajarkan Thariqoh Qodariyyah
wan Naqsyabandiyyah. Biasanya kedua thariqoh ini terpisah dan berdiri sendiri. Namun
setelah Syaikh Ahmad Khatib, kedua thariqoh ini dipadukan.

CARA BELAJAR SYEKH KHOLIL

Kesimpulannya, didalam menuntut ilmu, Syekh Kholil telah maksimal mengusahakan
hal-hal berikut:

1. Ikhlas karena Allah SWT. Beliau tidak peduli dengan pahitnya kehidupan saat
itu, karena yang beliau pentingkan adalah ilmu, dengan harapan Allah ridha
dengan ilmu yang beliau dapat. Beliau dapat membuktikan keikhlasan itu ketika
Allah SWT menguji beliau dengan hidup yang serba kekurangan.

2. Akhlaq yang tinggi kepada Allah SWT. Kita bisa lihat akhlaq beliau ketika
beliau harus keluar dari tanah haram (Makkah) untuk buang air besar. Beliau
merasa tidak sopan buang hajat di tanah suci. Ini menunjukkan betapa Syekh
Kholil sangat tawadhu’ dan peka terhadap Allah.

3. Cinta, hormat dan patuh kepada guru, tentunya setelah memilih guru yang
layak. Apapun beliau berikan kepada guru, untuk membantu dan membuat guru
ridha. Dihadapan guru, beliau siap sedia untuk diperintah melebihi budak
dihadapan tuannya. Jangankan harta, nyawapun siap dipertaruhkan untuk guru.

4. Mencintai ilmu sehingga beliau rajin belajar.

Dengan menggabung empat hal ini, Syekh Kholil berhasil mendapatkan ilmu yang
banyak dan barokah, dan semua itu kemudian mengantarkan beliau mendapat derajat
yang tinggi di sisi Allah, yaitu sebagai ulama da wali Allah. Bagi yang ingin
mendapatkan apa yang diperoleh Syekh Kholil, maka empat hal itulah kuncinya.

GURU-GURU SYEKH KHOLIL
DI MAKKAH AL-MUKARRAMAH

Dalam buku “Surat Kepada Anjing Hitam”, Saifur Rachman menulis: “Muhammad Kholil
bersama Abdul Karim dan Tolhah berguru kepada Syaikh Ahmad Khatib Sambas. Setelah
ketiganya mendapat ijazah dan berhak sebagai mursyid, lalu pulang ke Jawa
menyebarkan thariqoh Qodariyyah dan Naqsyabandiyyah.

Menurut Abah Anom, seorang mursyid Thariqoh Qodariyyah wan Naqsabandiyyah di
Tasikmalaya, Syaikh Abdul Karim menyebarkan Thariqot di Banten, Syaikh Tolhah
di Cirebon dan syaikh Kholil di Madura. Tentang keabsahan Thariqoh Kiai Kholil
banyak kekhilafan diantara ulama. Namun menurut catatan penulis yang mendengar
langsung lewat kaset penjelasan murid Kiai Kholil, Kiai As’ad Syamsul Arifin,
bahwa thariqoh Kiai Kholil adalah Qodariyyah wan Naqsabandiyyah.

Dengan demikian silsilah Kiai kholil dalam kemursyidan thariqoh Qodariyyah wan
Naqsabandiyyah dari jalur Syaikh Ahmad Khatib Sambas adalah sebagai berikut :

1. Allah SWT Rabbul Alamin.
2. Jibril AS.
3. Nabi Muhammad SAW.
4. Ali Bin Abi Thalib.
5. Husein Bin Ali.
6. Zaenal Abidin
7. Muhammad Al-Baqir.
8. Ja’far Ash-Shodiq.
9. Imam Musa Al-Kazhim.
10. Abu Hasan Ali Ar-Ridho
11. Ma’ruf Karkhi
12. Sari As-Saqoti
13. Abu Qosim Junaid Al-Baghdadi
14. Abu Bakar Asy-Syibli
15. Abu Fadly Abd Wahidi At-Tamimi
16. Abu Farazi At-Thurthusil
17. Abu Hasan Ayyub
18. Abu Said Al-Mubarok
19. Abdul Qodir Al-Jailani
20. Abdul Aziz
21. Muhammad Al-Hattak
22. Syamsudin
23. Syarifudin
24. Nurudin
25. Waliyyuddin
26. Hisyammuddin
27. Yahya
28. Abu Bakar
29. Abdurrahim
30. Utsman
31. Abdul Fattah
32. Muhammad Muraad
33. Syamsudin
34. Ahmad Khatib Sambas
35. Muhammad Kholil Bangkalan


Melihat kewenangan Kiai
Kholil sebagai mursyid Thariqoh Qodariyyah wan Naqsyabandiyyah menunjukkan
beliau memiliki derajat yang tinggi di dalam maqom spiritualnya. Menurut
penuturan Kiai As’ad Syamsul Arifin, pada saat Kiai Kholil berzikir di ruangan
majlis dzikir, apabila lampu dimatikan sering terlihat sinar biru yang sangat
terang memenuhi ruangan tersebut.

Sementara itu, ada empat nama yang saya baca dalam tulisan tangan Syekh Kholil,
nampaknya mereka ini adalah guru-guru beliau sewaktu belajar di Makkah
Al-Mukarramah, yaitu:

1. Syekh Ali Al-Mishri: Nama ini saya dapatkan pada salah satu surat Syekh Kholil kepada
Kiai Muntaha ketika Kiai Muntaha belajar di Makkah.

2. Syekh Umar As-Sami: Saya temukan pada tulisan Syekh Kholil sebagai catatan
pinggir kitab Al-Matan Asy-Syarif (ilmu nahwu). Di situ Beliau menyitir banyak keterangan
yang beliau terima dari Syekh Umar As-Sami.
3. Syekh Khalid Al-Azhari,
4. Syekh Al-Aththar
5. dan Syekh Abun-Naja: Mereka bertiga juga sering disebut dalam beberapa
tulisan tangan Syekh Kholil sebagai orang yang memberikan keterangan-keteragan
dalam ilmu nahwu. Nama-nama itu tersebar di berbagai kitab tulisan tangan Syekh
Kholil. Saya melihat dan mempelajari tulisan-tulisan itu dari kitab-kitab Syekh
Kholil yang ada pada Kiai Thoha Kholili.

Syek Ali Ar-Rahbini, guru terdekat Syekh Kholil
Syekh Ali bin Muhammad Amin bin Athiyyah Ar-Rahbini. Beliau adalah salah satu
ulama Makkah. Saya pernah membaca biografi beliau dalam sebuah kitab “Tarajim”
yang saya pinjam dari Syekh Ruwaid bin Hasan Ar-Rahbini ketika beliau
bertandang ke Malang, namun sayang sekali saya tidak sempat meng-copy kitab
itu, sayapun lupa sebagian besar isinya. Kejadian itu memang sudah cukup lama,
yaitu sekitar tahun 1992 dimana pada saat itu saya baru berusia 17 tahun.

Adapun putra beliau yag bernama Syekh Muhammad bin Ali, maka Syekh Umar Abdul
Jabbar, dalam kitab “tarajim”nya, menulis bahwa beliau lahir pada tahun 1286 H
(+ 1871) dan wafat tahun 1351 H (+ 1934). Maka Syekh Muhammad bin Ali lebih
muda 36 tahun dari Syekh Kholil. Beliau masuk dalam jajaran ulama Makkah abad
ke-13, sezaman dengan Sayyid Abbas bin Abdul Aziziz Al-Maliki (kakek Sayyid
Muhammad bin Alawi bin Abbas Al-Maliki). Menurut Syekh Umar Abdul Jabbar, Syekh
Muhammad bin Ali memiliki Majlis ta’lim di Babul Umroh Masjidil Haram. Bisa
jadi, Syekh Muhamad menggatikan majlis ayah beliau, sebagaimana adat ulama
Makkah apabila meneruskan profesi orang tuanya. Syekh Ali dan Syekh Muhammad
masyhur dengan keahlian yang menonjol dalam bidang qira’at (riwayat bacaan
Al-Qura’an). Mereka hafal Al-Qur’an dengan tujuh qira’at (riwayat).

Adapun Syekh Ali Ar-Rahbini, Di akhir hayat beliau tertimpa sakit hingga
mengalami kebutaan, sehingga beliaupun berhenti mengajar di Masjidil Haram. Namun
Syekh Kholil tidak berhenti belajar kepada Syekh Ali setelah beliau buta,
karena Syekh Kholil memohon izin untuk terus belajar di rumah beliau dan
beliaupun berkenan. Syekh Kholil sangat menghormati dan meyakini Syekh Ali,
sehingga ketika Syekh Ali meyuruh Syekh Kholil pulang, Syekh Kholil mematuhi
perintah itu walau sebenarnya beliau masih merasa kurang ilmu dan masih ingin
menambah ilmu. Berkat kepatuhan itu Syekh Kholil diberkati oleh Allah SWT.

Pada tahun 1997 saya bersilaturrahim kepada Syekh Muhammad Thayyib bin Muhammad
bin Ali Ar-Rahbini di Makkah, cucu Syekh Ali Ar-Rahbini, waktu itu beliau telah
berusia 95 tahun dan saya baru berusia 22 tahun. Kebetulan, ibu saya adalah
cucu Syekh Ali dari jalur Syekh Ali bin Muhammad bin Ali Ar-Rahbini, maka saya pernah
“buyut paman” pada Syekh Muhammad Thayyib. Diantara riwayat yang saya ambil
dari beliau adalah bahwa Syekh Ali Ar-Rahbini memiliki karya tulis tentang
Al-Qur’an, namun sampai saat itu manuskripnya hilang entah kemana.

Mengenai nisbat Ar-Rahbini, Rahbin adalah nama sebuah kampung di dekat kota
Samannud, Mesir. Syekh Ali memang keturunan Mesir. Beliau yang pertama wafat di
Makkah. Ayah beliau, yaitu Syekh Muhammad Amin wafat
di Istambul, Turki. Sedang kakek beliau, yaitu Syekh Athiyyah, dan beberapa generasi
sebelumnya tinggal di kampung Rahbin itu. Keluarga Ar-Rahbini yang di Indonesia
memegang silsilah hanya sampai Athiyyah. Menurut Syekh Ruwaid bin Hasan bin Ali
Ar-Rahbini, cucu beliau yang tinggal di Jiddah, nasab Al-Rahbini bersambung
pada Sayyidina Utsman bin Affan.

Setelah Syekh Kholil pulang ke Indonesia,
beliau tidak putus hubungan dengan Syekh Ali. Setelah Syekh Ali meninggal,
ternyata putra beliau, Syekh Muhammad, juga menonjol kelimannya dan mengajar di
Masjidil Haram. maka keponakan Syekh Kholilpun, yaitu Kiai Muntaha yang kelak
kemudian menjadi menantu beliau, belajar pada Syekh Muhammad bin Ali
Ar-Rahbini.

Hubungan Syekh Kholil dengan keluarga Ar-Rahbini tidak berhenti sampai pada
Syekh Muhammad, melainkan berlangsung sampai pada Syekh Ali bin Muhammad bin
Ali Ar-Rahbini, karena cucu guru beliau itu akhirnya datang ke Indonesia.
Cerita kedatangan Syekh Ali cukup menarik sehingga layak untuk dimuat sebagai
salah satu cerita karomah Syekh Kholil.

Pada suatu pagi setelah shalat
shubuh, seperti biasa Syekh Kholil mengajar santri di mushalla. Tiba-tiba Syekh
Kholil menutup kitab dan berkata: “Anak-anak, pengajian kali ini singkat saja,
sekarang kalian langsung membersihkan halaman dan ruang tamu, karena sebentar
lagi ada tamu agung, yaitu cucu dari guruku, Syekh Ali bin Muhammad bin Ali
Ar-Rahbini.

Setelah semua lingkungan pondok bersih, maka datanglah Syekh Ali bin Muhammad
bin Ali Ar-Rahbini. Syekh Kholil sudah tahu bakal kedatangan tamu jauh, padahal
waktu itu belum ada telpon.

Setelah Syekh Ali datang, maka Syekh Kholil menciumi Syekh Ali mulai dari ujung
rambut sampai ujung kaki. Begitu cinta dan hormatnya beliau terhadap Syekh Ali
sebagai cucu dari guru beliau. Kemudian Syekh Kholil menyuruh santri untuk
mengambil tiga gelas diatas nampan, gelas yang pertama diisi air putih, gelas
kedua diisi susu, gelas ketiga diisi kopi. Kemudian Syekh Kholil berkata pada
santri-santri: “Apabila Syekh Ali minum susu, insyaallah beliau tidak lama di
Indonesia. Apabila Syekh Ali minum air putih, insyaallah beliau akan tinggal
lama di Indonesia dan akan pulang ke Makkah. Dan apabila Syekh Ali minum kopi,
insyaallah beliau terus tinggal di Indonesia.” Mendengar ucapan Syekh Kholil
tersebut, para santri menunggu saatnya Syekh Ali memilih diantara tiga gelas itu.
Ternyata Syekh Ali memilih dan meminum kopi, padahal kopi Madura (Indoesia)
lain dengan kopi Arab. Kontan saja para santri bersorak gembira. Syekh Ali
hanya tersenyum saja karena tidak mengerti apa yang terjadi, beliau pikir sorak
gembira itu adalah bagian dari adat menyambut tamu.

Syekh Ali datang ke Indonesia pada tahun 1921, beberapa tahun sebelum Syekh
Kholil wafat. Waktu itu Syekh Ali masih berusia 18 tahun dan masih lajang,
namun sudah hafal Al-Qur’an dan perawakannya tinggi besar dengan wajah putih
berbulu lebat. Dengan ilmu dan perawakannya itu beliau tidak nampak seperti
anak muda, melainkan sudah berwibawa.

Kendatipun Syekh Kholil sangat menghormati Syekh Ali, namun Syekh Ali juga
tidak kalah menghormati Syekh Kholil, bahkan Syekh Ali kemudian berguru pada
Syekh Kholil. Tidak sampai di situ, melainkan Syekh Ali menjadi sangat ta’zhim
dan fanatik terhadap Syekh Kholil. Beliaupun menikahkan salah satu cucu beliau
dengan seorang cucu Syekh Kholil. Ketika lahir anak pertama pasangan sang Kiai
cucu Syekh Kholil dan sang Nyai cucu Syekh Ali, Syekh Ali memberi bayi itu Nama
“Kholil”. Semula sang Kiai cucu Syekh Kholil itu keberatan, karena di keluarga
beliau sudah banyak yang bernama “Kholil”. Menanggapi keberatan itu kemudian
Syekh Ali marah dan berkata: “Biarpun sudah ada seribu ‘Kholil’, anakmu tetap
harus diberi nama ‘Kholil’. Seribu ‘Kholil’ seribu barokah!” Akhirnya anak
itupun kemudian diberi nama “Kholil”.

Itu adalah sebagian cerita antara Syekh Kholil dengan keluarga Ar-Rahbini. Adapun
Syekh Ali Ar-Rahbini sendiri kemudian tinggal di Gondanglegi Malang. Beliau
dikenal sebagai ulama yang hafal Al-Qur’an dan fasih, suaranya yang lantang dan
berwibawa membuat jamaah jum’at betah mendengar khutbah beliau walaupun mereka
tidak mengerti khutbah beliau yang berbahasa Arab. Beliau juga dikenal wali,
banyak cerita kezuhudan dan karomah beliau yang tentu terlalu panjang untuk
dimasukkan dalam bab ini.

Beliau menikah dengan beberapa wanita Jawa dan Madura, dari lima orang istri
beliau mempunyai 24 putra-putri. Beberapa putri beliau dinikahkan dengan
Kiai-kiai Madura, yaitu Nyai Lathifah dengan Kiai Shonhaji Jazuli (ulama besar
Pamekasan); adiknya, yaitu Nyai Aminah dengan adik Kiai Shonhaji, yaitu Kiai
Mahalli; Nyai Sarah dengan Kiai Asim Luk-guluk (ulama besar Sumenep); Nyai
Qudsiyah dengan Kiai Abdul Aziz Ombhul (ulama besar Sampang). Adapun dari
putra-putra beliau ada dua orang yang meneruskan perjuangan beliau, yaitu Kiai
Fauzi di Gondanglegi, Malang dan Kiai Khairuman yang mendirikan pondok
pesantren di Pontianak, yaitu Pesantren Darul Ulum yang merupakan pesantren
terbesar dan terkenal di Kalimantan Barat.

SILSILAH NASAB
Syekh Kholil adalah titisan beberapa wali yang tergabung dalam Walisongo, Yaitu
Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Gunung Jati dan Sunan Kudus, yang mana mereka
bermarga “Azmatkhan” dan bersambung pada Sayyid Alawi Ammil Faqih bin Muhammad
Shahib Mirbath. Beliau juga bernasab pada keluarga Basyaiban yang bersambung
pada Al-Imam Muhammad Al-Faqih Al-Muqaddam bin Ali bin Muhammad Shahib Mirbat
Al-Alawi Al-Husaini.

Berikut ini adalah silsilah nasab Syekh Syekh Kholil, terlebih dahulu saya
tulis silsilah jalur laki-laki yang bersambung pada Suanan Kudus, untuk
menunjukkan hak beliau dalam menggunakan nama belakang (marga/fam) “Azmatkhan
Al-Alawi Al-Husaini”, sesuai dengan adat dan istilah pernasaban bangsa Arab.

Jalur Sunan Kudus (Garis laki-laki)

1. Syekh Muhammad Kholil Bangkalan.
2.Kiai Abdul Lathif. Dimakamkan di Bangkalan.
3.Kiai Hamim. Dimakamkan di Tanjung Porah, Lomaer, Bangkalan.
4. Kiai Abdul Karim
5.Kiai Muharram. Dimakamkan di Banyo Ajuh, Bangkalan.
6. Kiai Abdul Azhim. Dimakamkan di Tambak Agung, Sukalela, Labeng, Bangkalan.
7 Kiai Selase. Dimakamkan di Selase Petapan, Trageh, Bangkalan.
8. Kiai Martalaksana. Dimakamkan di Banyu Buni, Gelis, Bangkalan.
9. Kiai Badrul Budur. Dimakamkan di Rabesan, Dhuwwek Buter, Kuayar, Bangkalan.
10. Kiai Abdur Rahman (Bhujuk Lek-palek). Dimakamkan di Kuanyar, Bangkalan.
11. Kiai Khatib. Ada yang menulisnya “Ratib”. Dimakamkan di Pranggan, Sumenep.
12. Sayyid Ahmad Baidhawi (Pangeran Ketandar Bangkal). Dimakamkan di Sumenep.
1Sayyid Shaleh (Panembahan Pakaos). Dimakamkan di Ampel Surabaya
14.Sayyid Ja’far Shadiq (Sunan Kudus) Dimakamkan di Kudus.
15.Sayyid Utsman Haji (Sunan Ngudung). Dimakamkan di Kudus.
16.Sayyid Fadhal Ali Al-Murtadha (Raden Santri /Raja Pandita). Dimakamkan di
Gresik.
17. Sayyid Ibrahim (Asmoro). Dimakamkan di TubanSayyid Husain Jamaluddin
Dimakamkan di Bugis.
19.Sayyid Ahmad Syah Jalaluddin. Dimakamkan di Naseradab, India
20 Sayyid Abdullah. Dimakamkan di Naserabad, India.
21. Sayyid Abdul Malik Azmatkhan. Dimakamkan di Naserabad, India.
22. Sayyid Alawi ‘Ammil Faqih. Dimakamkan di Tarim, Hadramaut, Yaman.
23.Sayyid Muhammad Shahib Mirbath. Dimakamkan di Zhifar, Hadramaut, Yaman.
24.Sayyid Ali Khali’ Qasam. Dimakamkan di Tarim, Hadramaut, Yaman.
25.Sayyid Alawi. Dimakamkan di Bait Jabir, Hadramaut, Yaman.
26.Sayyid Muhammad. Dimakamkan di Bait Jabir, Hadramaut, Yaman.
27.Sayyid Alawi. Dimakamkan di Sahal, Yaman.
28. Sayyid Abdullah/Ubaidillah. Dimakamkan di Hadramaut, Yaman.
29.Al-Imam Ahmad Al-Muhajir . Dimakamkan di Al-Husayyisah, Hadramaut, Yaman.
30. Sayyid Isa An-Naqib. Dimakamkan di Bashrah, Iraq.
31. Sayyid Muhammad An-Naqib. Dimakamkan di Bashrah, Iraq.
32. Al-mam Ali Al-Uradhi. Dimakamkan di Al-Madinah Al-Munawwarah.
33.Al-Imam Ja’far Ash-Shadiq. Dimakamkan di Al-Madinah Al-Munawwarah.
34.Al-Imam Muhammad Al-Baqir. Dimakamkan di Al-Madinah Al-Munawwarah.
35. Al-Imam Ali Zainal Abidin. Dimakamkan di Al-Madinah Al-Munawwarah.
36. Sayyidina Husain bin Ali bin Abi Thalib. Dimakamkan di Karbala, Iraq.
37.Sayyidatina Fathimah Az-Zahra’ binti Sayyidina Muhammad Rasulillah SAW. Dimakamkan
di Madinah Al-Munawwarah

Maka, dari jalur Sunan Kudus, Syekh Kholil adalah generasi ke-37 dari
Rasulullah SAW.

Jalur Sunan Ampel (garis perempuan)
1. Syekh Muhammad Kholil Bangkalan.
2. Kiai Abdul Lathif. Dimakamkan di Bangkalan.
3 Kiai Hamim. Dimakamkan di Tanjung Porah, Lomaer, Bangkalan.
4. Kiai Abdul Karim.
5. Kiai Muharram. Dimakamkan di Banyo Ajuh, Bangkalan.
6. Kiai Abdul Azhim. Dimakamkan di Tambak Agung, Sukalela, Labeng, Bangkalan.
7.Nyai Tepi Sulasi (Istri Kiai Sulasi). Dimakamkan di Petapan, Trageh,
Bangkalan.
8.Nyai Komala. Dimakamkan di Kuanyar, Bangkalan.
9. Sayyid Zainal Abidin (Sunan Cendana). Dimakamkan di Kuanyar, Bangkalan.
10.Sayyid Muhammad Khathib (Raden Bandardayo). Dimakamkan di Sedayu Gresik.
11. Sayyid Musa (Sunan Pakuan). Dimakamkan di Dekat Gunung Muria Kudus. Dalam
sebagian catatan nama Musa ini tidak tertulis.
12. Sayyid Qasim (Sunan Drajat). Dimakamkan di Drajat, Paciran Lamongan.
13. Sayyid Ahmad Rahmatullah (Sunan Ampel). Dimakamkan di Ampel, Surabaya.
14.Sayyid Ibrahim Asmoro Tuban. Disini nasab Nyai Sulasi dan Kiai Sulasi
bertemu.

Maka, melalui jalur Sunan Ampel, Syekh Kholil adalah generasi ke-34 dari
Rasulullah SAW.
Jalur Sunan Giri (garis perempuan)
1. Syekh Muhammad Kholil Bangkalan.
2. Kiai Abdul Lathif. Dimakamkan di Bangkalan.
3. Kiai Hamim. Dimakamkan di Tanjung Porah, Lomaer, Bangkalan.
4.Kiai Abdul Karim.
5. Kiai Muharram. Dimakamkan di Banyo Ajuh, Bangkalan.
6. Kiai Abdul Azhim. Dimakamkan di Tambak Agung, Sukalela, Labeng, Bangkalan.
7. Nyai Tepi Sulasi (Istri Kiai Sulasi). Dimakamkan di Petapan, Trageh,
Bangkalan.
8. Nyai Komala. Dimakamkan di Kuanyar, Bangkalan.
9.Sayyid Zainal Abidin (Sunan Cendana). Dimakamkan di Kuanyar, Bangkalan.
10. Nyai Gede Kedaton (istri Sayyid Muhammad Khathib). Dimakamkan di Giri,
Gresik.
11.Ali Khairul Fatihi / Panembahan Kulon. Dimakamkan di Giri, Gresik.
12.Sayyid Muhammad Ainul Yaqin (Sunan Giri). Dimakamkan di Giri, Gresik.
13. Maulana Ishaq. Dimakamkan di Pasai.
14. Sayyid Ibrahim Asmoro Tuban. Disini nasab Nyai Gede Kedaton dan Sayyid
Muhammad Khathib bertemu.

Maka, melalui jalur Sunan Giri, Syekh Kholil adalah generasi ke-34 dari
Rasulullah SAW.

Jalur SunAn Gunung Jati (garis perepuan)

1 Syekh Muhammad Kholil Bangkalan.
2.Kiai Abdul Lathif. Dimakamkan di Bangkalan.
3. Nyai Khadijah (Istri Kiai Hamim). Dimakamkan di Bangkalan.
4. Kiai Asror Karomah.
5.Sayyid Abdullah.
6.Sayyid Ali Al-Akba
7. Syarifah Khadijah.
8.Maulana Hasanuddin Dimakamkan di Banten.
9.Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati). Dimakamkan di Cirebon.
10.Sayyid Abdullah Umdatuddin.
11. Sayyid Ali Nuruddin/Nurul Alam.
12.Sayyid Husain Jamaluddin Bugis. Disini nasab Nyai Khadijah dan Kiai Hamim
Kholil bertemu.

Maka, melalui jalur Sunan Gunung Jati, Syekh Kholil adalah generasi ke-32 dari
Rasulullah SAW.

Jalur Basyaiban (garis perempuan)
1Syekh Muhammad Kholil Bangkalan.
2. Kiai Abdul Lathif. Dimakamkan di Bangkalan.
3.Nyai Khadijah (Istri Kiai Hamim). Dimakamkan di Bangkalan.
4.Kiai Asror Karomah.
5.Sayyid Abdullah.
6. Sayyid Ali Al-Akbar.
7. Sayyid Sulaiman. Dimakamkan di Mojo Agung, Jombang.
8.Sayyid Abdurrahman (Suami Syarifah Khadijah binti Hasanuddin).
9.Sayyid Umar.
10.Sayyid Muhammad.
11.Sayyid Abdul Wahhab.
12.Sayyid Abu Bakar Basyaiban.
13.Sayyid Muhammad.
14.Sayyid Hasan At-Turabi.
15.Sayyid Ali.
16.Al-Imam Muhammad Al-Faqih Al-Muqaddam.
17. Sayyid Ali.
18.Sayyid Muhammad Shahib Mirbat. Disini nasab keluarga Azmatkhan dan Basyaiban
bertemu.


Maka, melalui jalur Sayyid
Abdurrahman Basyaiban, Syekh Kholil adalah generasi ke-32 dari Rasulullah SAW.

Demikianlah nasab Syekh Kholil dengan berbagai jalur yang saya dapatkan sampai
saat ini, bisa jadi suatu hari nanti kita menemukan nama-nama baru daripada
istri-istri jalur laki-laki yang ada itu.

Dalam hal pencatatan nasab, ada satu hal yang cukup membanggakan bagi Kiai-kiai
Jawa dan Madura. Berkat gabungan antara adat Arab dalam menjaga silsilah dan
adat Jawa/Madura yang tidak membeda-bedakan garis laki-laki dan perempuan,
akhirnya Kiai-Kiai Jawa/Madura banyak yang memliki silsilah lengkap dari
berbagai jalur. Saya pernah menunjukkan sebuah silsilah seperti ini pada
seorang Syekh dari Yaman, beliau merasa kagum karena banyak jalur perempuan
yang juga dicatat dalam silsilah itu selain jalur laki-laki, karena pada
umumnya, orang Arab tidak tahu nama-nama kakek-buyutnya yang dari jalur ibu
atau jalur nenek, mereka hanya mengenal yang jalur ayah keatas dengan garis
laki-laki

SEPULANG DARI MAKKAH

Saya membaca catatan Syekh Kholil dalam kitab “Hasyiyah Al-Bajuri” tulisan
tangan beliau yang ada pada Kiai Thoha Kholili Jangkibuan, di situ tertulis
pernyataan berbahasa Arab yang artinya: “Aku membaca (mengaji) kitab ini pada tahun
1274 H pada …”. Nama guru
ngaji beliau tidak jelas karena tulisannya rusak seperti terkena basah.

Kemudian, dalam catatan Kiai Kholili Jangkibuan, tertulis bahwa Syekh Kholil
menikah dengan Nyai Assek binti Ludrapati pada tahun 1278. Maka kita bisa memastikan
bahwa kepulangan Syekh kholil dari Makkah adalah antara tahun 1274 dan 1278 (+
1857-1861).

Sepulang dari Makkah, Syekh Kholil tidak langsung mengajar, beliau baru mulai
berpikir bagaimana caranya agar dapat mengajarkan ilmunya pada masyarakat. Beliau
masih tinggal bersama kakak beliau, Nyai Maryam, di Keramat. Sambil mencari
peluang untuk mengamalkan ilmunya, Syekh Kholil mengisi waktu dengan bekerja di
kantor pejabat Adipati Bangkalan. Selain untuk mencari nafkah, sepertinya
beliau juga bermaksud untuk mencari banyak teman dan kenalan, karena hanya
dengan begitulah beliau dapat bergaul.

Di kantor pejabat Adipati Bangkalan itu, Syekh Kholil diterima sebagai penjaga
dan kebagian jaga malam. Maka setiap bertugas malam, Syekh Kholil selalu
membawa kitab, beliau rajin membaca di sela-sela tugas beliau. Akhirnya
beliaupun oleh para pegawai Adipati dikenal ahli membaca kitab, sehingga berita
itupun sampai pada Kanjeng Adipati. Kebetulan, leluhur Adipati sebenarnya
adalah orang-orang alim, mereka memang keturunan Syarifah Ambami Ratu Ibu yang
bersambung nasab pada Sunan Giri. Maka tidak aneh kalau di rumah Adipati banyak
terdapat kitab-kitab berbahasa Arab warisan leluhur, walaupun Adipati sendiri
tidak dapat mebaca kitab berbahasa Arab. Adipatipun mengizinkan Syekh Kholil
untuk membaca kitab-kitab itu di perpustakaan beliau. Syekh Kholil merasa
girang bukan main, karena pada zaman itu tidak mudah untuk mendapatkan kitab,
apalagi sebanyak itu.

Setelah yakin bahwa Syekh Kholil betul-betul ahli dalam ilmu keislaman dan
bahasa Arab, maka Kanjeng Adipati mengganti tugas Syekh Kholil, dari tugas
menjaga kantor berubah tugas mengajar keluarga Adipati. Pucuk dicinta ulampun
tiba, demikianlah yang dirasa oleh Syekh Kholil, beliaupun memanfaatkan
kesempatan itu untuk mengembangkan ilmunya dengan mengajar keluarga bangsawan. Beliaupun
telah memiliki profesi baru sebagai pengajar ilmu agama.

Sejak saat itu, Syekh Kholil memiliki tempat yang terhormat di hati Kanjeng
Adipati dan keluarga bangsawan lainnya. Mereka mulai menghormati dan mencintai
beliau sebagai ulama. Maka tertariklah seorang kerabat Adipati untuk
bermenantukan Syekh Kholil, yaitu Raden Ludrapati yang memiliki anak gadis
bernama Nyai Assek. Setelah proses pendekatan, maka diputuskanlah sebuah
kesepakatan untuk menikahkan Syekh Kholil dengan Nyai Assek. Pernikahanpun
berlangsung pada tanggal 30 Rajab 1278 H (+1861 M).

Setelah menikah dengan Nyai Assek, Syekh Kholil mendapatkan hadiah dari sang
mertua, Ludrapati, berupa sebidang tanah di desa Jangkibuan. Beliaupun
membangun rumah dan pesantren di tanah itu. Beliau mulai menerima santri sambil
masih mengajar di keraton Adipati. Tidak ada riwayat tentang sampai kapan Syekh
Kholil mengajar di keraton Adipati, namun yang pasti, Pesantren Jangkibuan
semakin hari semakin ramai, banyak santri berdatangan dari berbagai penjuru,
baik dari sekitar Bangkalan maupun daerah lain di Madura dan Jawa.

Syekh Kholil mengukir prestasi dengan cepat, nama beliau cepat dikenal oleh
masyarakat, khususnya masyarakat pesantren, baik di Madura maupun di Jawa. Cepatnya
nama beliau terkenal membuat banyak teman mondok beliau tidak percaya. Diantara
mereka ada seseorang yang pernah berteman dengan beliau sewaktu mondok di
Cangaan, orang ini tidak percaya bahwa Kholil yang ia kenal telah menjadi ulama
besar.

Ketika ia mendengar bahwa Syekh Kholil itu adalah Kholil temannya di Cangaan,
maka iapun berkata: “Masa, sih, dia Kholil yang dulu suka main kelereng dengan
saya itu?!”. Karena penasaran, orang itupun datang ke Bangkalan. Setibanya di
bangkalan, orang itu bertanya pada seseorang, “mana rumah Syekh Kholil?”. Orang
yang ditanya menunjukkan arah rumah Syekh Kholil, namun ternyata orang Jawa itu
justru melihat banyak binatang buas di tempat yang ditunjuk itu. Iapun kembali
menemui orang yang ditanya tadi, tapi tetap saja ia menunjuk tempat yang sama. Demikian
sampai tiga kali.

“Tapi tempat itu bukan rumah, kok, pak. Di situ saya lihat banyak binatang
buasnya.”

“Ah, masa? Baiklah, mari saya antar.”

Setelah ketiga kalinya, orang Jawa itupun diantar dan begitu tiba di tempat
ternyata ia melihat sebuah rumah yang dikerumuni binatang buas, bersamaan
dengan itu keluarlah Syekh Kholil dan binatang-binatang itupun langsung pergi. Melihat
yang keluar adalah benar-benar Kholil yang ia kenal, maka orang Jawa itupun
langsung mencium tangan Syekh Kholil dan meminta maaf. Sejak saat itu, orang
Jawa yang dulunya berteman dengan Syekh Kholil di Cangaan itupun kemudian
berguru pada Syekh Kholil.

PESANTREN DEMANGAN

Pada tahun 1280 (+1863), lahirlah putri Syekh Kholil yang bernama Nyai
Khotimah. Sementara itu Nyai Maryam (kakak Syekh Kholil) dengan Kiai Kaffal
memiliki putra bernama Kiai Muntaha yang lahir pada tahun 1266 H. Saat Nyai
Khotimah lahir, Kiai Muntaha berusia 14 tahun. Muntaha muda diberangkatkan ke
Makkah untuk menuntut ilmu. Pada tahun 1288, Kiai Muntaha yang telah berubah
nama menjadi Muhammad Thoha pulang ke Madura, saat itu beliau berusia 22 tahun.
Maka Syekh Kholil menikahkan Kiai Thoha dengan Nyai Khotimah yang masih berusia
8 tahun. Namun Kiai Thoha dan Nyai Khotimah tidak langsung dipertemukan,
melainkan Kiai Thoha berangkat lagi ke Makkah untuk melanjutkan pendidikan
hingga tujuh tahun lamanya. Ada yang mengatakan hingga sembilan tahun.

Setelah Kiai Thoha pulang, beliau telah menjadi seorang ulama muda yang mumpuni
dalam berbagai bidang ilmu keislaman. Maka Syekh Kholilpun menyerahkan
Pesantren Jangkibuan pada Kiai Thoha, sementara Syekh Kholil sendiri pindah dan
mendirikan pesantren di Demangan.

Dalam buku “Surat Kepada Anjing Hitam”, Saifur Rahcman menulis: “Dari Pesantren
Demangan inilah Kiai Kholil bertolak menyebarkan agama Islam di Madura hingga
Jawa. Kiai Kholil mula-mula membina agama Islam di sekitar Bangkalan. Baru
setelah dirasa cukup baik, mulailah merambah ke pelosok-pelosok jauh, hingga
menjangkau ke seluruh Madura secara merata.

Pulau Jawa yang merupakan pulau terdekat dengan pulau Madura menjadi sasaran
da’wah Kiai Kholil. Jawa yang telah dirintis oleh pendahulunya yaitu Sunan
Giri, dilanjutkan oleh Kiai Kholil dengan metode da’wah yang sistematis. Tidak
jarang Kiai Kholil dalam da’wahnya terjun langsung ke masyarakat lapisan
terbawah di pedesaan Jawa. Saat ini masih nyata bekas peninggalan da’wah Kiai
Kholil baik berupa naskah-naskah, kitab Al-Qur’an, maupun monument atau tugu
yang pernah dibangunnya. Sebuah tugu penunjuk arah kiblat dan tanda masuknya
sholat lima waktu masih dapat dilihat sampai sekarang di Desa Pelalangan,
Bondowoso. Demikian juga beberapa kenangan berupa hadiah tasbih kepada salah
satu masyarakat di daerah Bondowoso.

Masih banyak bekas jejak da’wah yang dapat kita temui sekarang, seperti
musholla, sumur, sorban, tongkat Kiai Kholil
MURID-MURID SYEKH KHOLIL

“Hampir ulama besar di Madura dan Jawa adalah murid Kiai Kholil. Selain itu,
murid Kiai Kholil rata-rata berumur panjang, banyak diatas 100 tahun. Berikut
ini sebagian murid Kiai Kholil yang mudah dikenal saat ini :

1. KH. Hasyim Asy’ari : Pendiri, pengasuh Pondok Pesantren Tebu Ireng Jombang. Beliau
juga dikenal sebagai pendiri organisasi Islam Nahdlatul Ulama (NU) Bahkan
beliau tercatat sebagai Pahlawan Nasional.
2. KHR. As’ad Syamsul Arifin : Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah,
Sukorejo Asembagus, Situbondo. Pesantren ini sekarang memiliki belasan ribu
orang santri.
3. KH. Wahab Hasbullah: Pendiri, Pengasuh Pondok Pesantren Tambak Beras
Jombang. Pernah menjabat sebagai Rais Aam NU (1947 – 1971).
4. KH. Bisri Syamsuri: Pendiri, Pengasuh Pondok Pesantren Denanyar, Jombang.
5. KH. Maksum : Pendiri, Pengasuh Pondok Pesantren Rembang, Jawa Tengah
6. KH. Bisri Mustofa : Pendiri, Pengasuh Pondok Pesantren Rembang, Beliau juga
dikenal sebagai mufassir Al Quran. Kitab tafsirnya dapat dibaca sampai
sekarang, berjudul “Al-Ibriz” sebanyak 3 jilid tebal berhuruf jawa pegon.
7. KH. Muhammad Siddiq : Pendiri, Pengasuh Pesantren Siddiqiyah, Jember.
8. KH. Muhammad Hasan Genggong : Pendiri, Pengasuh Pondok Pesantren Zainul
Hasan, Genggong. Pesantren ini memiliki ribuan santri dari seluruh penjuru
Indonesia.
9. KH. Zaini Mun’im : Pendiri, Pengasuh Pesantren Nurul Jadid, Paiton,
Probolinggo. Pesantren ini juga tergolong besar, memiliki ribuan santri dan
sebuah Universitas yang cukup megah.
10. KH. Abdullah Mubarok : Pendiri, Pengasuh Pondok , kini dikenal juga
menampung pengobatan para morphinis.
11. KH. Asy’ari : Pendiri, pengasuh pondok Pesantren
Darut Tholabah, Wonosari Bondowoso.
12. KH. Abi Sujak : Pendiri, pengasuh pondok Pesantren Astatinggi, Kebun Agung,
Sumenep.
13. KH. Ali Wafa : Pendiri, pengasuh Pondok Pesantren Temporejo, Jember.
Pesantren ini mempunyai ciri khas yang tersendiri, yaitu keahliannya tentang
ilmu nahwu dan sharaf.
14. KH. Toha : Pendiri,
pengasuh Pondok Pesantren Bata-bata, Pamekasan.
15. KH. Mustofa : Pendiri, pengasuh Pondok Pesantren Macan Putih, Blambangan
16. KH Usmuni : Pendiri, pengasuh Pondok Pesantren Pandean Sumenep.
17. KH. Karimullah : Pendiri, pengasuh Pondok Pesantren Curah Damai, Bondowoso.
18. KH. Manaf Abdul Karim : Pendiri, pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo Kediri.
19. KH. Munawwir : Pendiri, pengasuh Pondok Pesantren Krapyak, Yogyakarta.
20. KH. Khozin : Pendiri, pengasuh pondok Pesantren Buduran, Sidoarjo.
21. KH. Nawawi : Pendiri, pengasuh pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan.
Pesantren ini sangat berwibawa. Selain karena prinsip salaf tetap dipegang
teguh, juga sangat hati-hati dalam menerima sumbangan. Sering kali menolak
sumbangan kalau patut diduga terdapat subhat.
22. KH. Abdul Hadi : Lamongan.
23. KH. Zainudin : Nganjuk
24. KH. Maksum : Lasem
25.KH. Abdul Fatah : Pendiri, pengasuh Pondok Pesantren Al Fattah, Tulungagung
26. KH. Zainul Abidin : Kraksan Probolinggo.
27. KH. Munajad : Kertosono
28. KH. Romli Tamim : Rejoso jombang
29. KH. Muhammad Anwar : Pacul Bawang, Jombang
30. KH. Abdul Madjid : Bata-bata, Pamekasan, Madura
31. KH. Hasbullah Abubakar Tebul,Kwayar Bangkalan Madura (Makam Kramat Pantai
Kedung Cowek Surabaya)
32. KH. Muhammad Thohir jamaluddin : Sumber Gayam, Madura.
33. KH. Zainur Rasyid : Kironggo, Bondowoso
34. KH. Hasan Mustofa : Garut Jawa Barat
35. KH. Raden Fakih Maskumambang : Gresik
36. Sayyid Ali Bafaqih : Pendiri, pengasuh Pesantren Loloan Barat, Negara, Bali
37. KH. Abdul Hamid bin Itsbat, banyuwangi


GENERASI KELUARGA
DAN PENERUS PERJUANGAN
SYEKH KHOLIL

STRI-ISTRI SYEKH KHOLIL

Ada sembilan wanita yang tercatat sebagai istri Syekh Kholil, beberapa diantara
mereka beliau nikahi setelah beberapa istri sebelumnya meninggal dunia. Hal itu
sangatlan wajar, karena Syekh Kholil itu berumur panjang, bahkan ada yang
mengatakan bahwa beliau berumur lebih dari seratus tahun, maka beliaupun beberapa
kali kedahuluan meninggal oleh istri dan beberapa kali menikah lagi. Itulah
sebabnya Syekh Kholil memiliki istri yang banyak.

Mereka adalah:
Nyai Raden Ayu Assek binti Ludrapati.
Nyai Ummu Rahma.
Nyai Raden Ayu Arbi’ah.
Nyai Kuttab.
Nyai Raden Ayu Nur Jati.
Nyai Mesi.
Nyai Sailah.

Dari sembilan istri itu, hanya empat orang yang menurunkan keturunan Syekh
Kholil. Mereka adalah: Nyai Assek, Nyai Ummu Rahmah, Nyai Arbi’ah dan Nyai
Mesi.

PUTRA-PUTRI SYEKH KHOLIL
Dengan Nyai Assek:
Ahmad (Meninggal masih kecil).
Nyai Khotimah.
KH. M. Hasan.
Dengan Nyai Ummu Rahma:
Nyai Rahma.
Dengan Nyai Arbi’ah:
KH. Imron.
Dengan Nyai Mesi:
KH.Badawi.
Nyai Asma’.

Dari keenam putra-putri itu, hanya empat yang menurunkan keturunan sampai
sekarang, yaitu selain KH. M. Hasan dan KH. Badawi.


1. NY. KHOTIMAH BINTI KHOLIL

Nyai Khotimah menikah dengan Kiai Muhammad Thoha (kiai Muntaha) bin Kiai
Kaffal. Mereka masih sepupu, karena Kiai Muhammad Thoha adalah putra Nyai
Maryam (kakak Syekh Kholil). Kalau dari ayah, Kiai Muhammad Thoha pernah
keponakan dua pupu kepada Nyai Khotimah.

Pasangan Nyai Khotimah dan Kiai Muhammad Thoha memiliki tiga orang putra,
yaitu:
Kiai Ahmad.
Nyai Rahimah.
dan Kiai Abdul-Lathif.
Namun hanya Kiai Abdul Lathif yang memiliki keturunan.
Kiai Abdul Lathif memiliki putra tunggal bernama Kiai Kholili.
Kiai Kholili memiliki dua istri, yaitu Nyai Na’imah binti Imron bin Kholil dan
Nyai Nafisah binti abdul Karim bin Munawwar bin Kaffal + Nyai Maryam (kakak
Syekh Kholil).

a. Putra-putra KH. Kholili dengan Nyai Na’imah:
Kiai Ahmad Juwaini. Mendirikan “Pesantren Al-Bukhoriyah” di Jhembhuh,
bangkalan.
Kiai Abdul Mu’thi. Mendirikan “Pesantren Sirojul Kholil” di kampung Dulkariman,
Bangkalan.
Kiai Abdul Mughni. Mendirikan pesantren di Sukalela Lama, Bangkalan.
b. Putra-putri KH. Kholili dengan Nyai Nafisah:
Kiai Abdul Lathif. Mendirikan “Madrasah Al-Awwaliyah” di Pasar Kapoh,
Bangkalan.
Kiai Abdul Kholiq. Mendirikan sebuah Madrasah di kampung Goa, Trahgeh,
Bangkalan.
Nyai Khotimah (Kramat).
Nyai Rosyidah. Menikah dengan Kiai Hifni Thoha, Pesantren Al-Falah, Sumber
Gayam, Pamekasan.
Kiai Abdul Hamid. Mengasuh Pesantren “Al-Muntaha Al-Kholili” Jangkibuan,
pesantren pertama yang didirikan oleh Syekh Kholil.
Kiai Thoha.
Fatimah Az-Zahra’. Menikah dengan Kiai Abdul Malik Hasyim, Pesantren Al-Ishaqi
II, Jhembhuh, Bangkalan.
Nyai Rohimah (Bondowoso).
Kiai Mujtaba.
Kiai Syamsuddin.
Kiai Muhammad Hasan


Kiyai Muhammad Khalil al-Maduri, wafat dalam usia yang
lanjut, 106 tahun, pada 29 Ramadan 1341 Hijrah/14 Mei 1923 Masehi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar