Minggu, 24 April 2011

MASA DEPAN PEMUDA


Pemuda dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi ketiga terbitan Balai Pustaka berarti orang muda; remaja. Sedangkan kata remaja berarti mulai dewasa. Dan dewasa berarti sampai umur; akil baligh (bukan kanak-kanak atau remaja lagi). Dalam suatu masyarakat kita dapat menemukan tingkatan umur manusia. Bayi, anak-anak, remaja, pemuda dan orang tua.
Berbicara tentang pemuda, kita tidak juga akan menemukan makna semangat dalam membicarakannya. Masa muda adalah masa yang penuh dengan ujian. Siapa yang semangat dan berhasil dalam segala ujian di dalam masa muda tersebut maka selamatlah dalam menghadapi masa tua.
Setiap zaman mempunyai seorang pemimpin. Zaman memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan, Indonesia dipimpin oleh generasi Ir. Soekarno, Drs. Mohd. Hatta, Syahrir, Adam Malik, dan banyak tokoh nasional yang lain. Dan pada masa Reformasi, Indonesia dipimpin oleh KH. Abdurrahman Wahid dan generasinya seperti Ir. Akbar Tanjung, Prof. DR. Amien Rais, Prof, Ir. BJ. Habibie, Hj. Megawati, dan banyak lagi tokoh zaman sekarang yang dulunya (pada zaman Ir. Soekarno) adalah para pemudanya.
Pemuda sekarang akan lain dengan para pemuda zaman dulu yang sekarang menjadi para pemimpin bangsa. Kekuatan dan kekekalan suatu bangsa terletak di tangan para pemudanya. Apakah bangsa itu akan menjadi sebuah bangsa yang rusak dan amboradul, atau menjadi bangsa yang tetap jaya.
Pemuda Sebagai Wajah Bangsa
Kekuatan sebuah bangsa terletak di tangan para pemudanya. Karena merekalah yang akan menunjukkan wajah kehormatan suatu bangsa dalam segala kontes kehidupan. Jika para pemuda dalam suatu negara mengalami kerusakan moral dan agama, maka sangat disayangkan nasib bangsa itu nantinya.
Karena bagaimana pun, pemuda adalah kader bangsa yang harus terbina dengan segala bentuk pendidikan. Baik itu pendidikan kejiawaan (Psykologi) sampai pendidikan politik. Jangan sampai pendidikan yang dirancang dan dilaksanakan oleh negara tidak memerhatikan masa depan para pemudanya. Apalagi hanya mementingkan kepentingan pribadi dan golongan saja.
Pemuda dan Kepemimpinan
Seorang pemuda harus sadar bahwa masa depan bangsa dan kepemimpinan negara berada di tangannya. Karena asas Kepemimpinan adalah kesadaran dan kemauan. Sikap dan ciri kepemimpinan yang baik adalah, satu, pemimpin berilmu, berakhlak, berintegritas, professional dan pandai; dua, pemimpin membuat keputusan dan bertangguing jawab atas keputusannya; tiga, pemimpin menetapkan yang betul; empat, pemimpin dapat mempengaruhi bukan dipengaruhi; lima, pemimpin harus bersedia mendengar dan berlapang dada; enam, pemimpin dapat memberi semangat dan motivasi; tujuh, pemimpin menjadi contoh; delapan, pemimpin pemegang obor pemikiran dan tindakan. [1]
Oleh karena itu seorang pemuda perlu mengetahui pengetahun tentang kepemimpinan. Dari apa itu pemimpin, ciri-ciri, dan tugasnya. Pemimpin adalah seseorang yang pandai dan menggunakan kepandaian tersebut untuk menggerakkan diri, organisasi dan masyarakat. Diantara kepandaian yang harus dikuasai adalah, satu, pandai mengurus diri dan organisasi, termasuk mengatur waktu –keperluan diri sendiri dan kerja; dua, pandai mendengan dan menghormati; tiga, pandai memperoleh informasi; empat, pandai menganalisa dan membuat keputusan; lima, pandai bermusyawarah; enam, pandai mengatur keuangan; enam, pandai berkomunikasi; tujuh, pandai akan teknologi; delapan, pandai dalam pengucapan awam (dalam bermasyarakat); sembilan, pandai menulis dan mendokumentasi. [2] Begitulah kiranya beberapa poin yang perlu dikuasai oleh para pemuda sekarang agar dapat meneruskan perjuangan mempertahankan dan memajukan bangsa dan negara.
Seorang pemuda dituntut untuk tidak apatis (masa bodoh) atas segala masalah yang menimpa bangsa dan negara. Baik itu masalah bencana alam sampai bencana sosial ekonomi dan politik yang dimana alam bernegara dirusak oleh kebanyakan generasi tua yang haus akan kekuasaan. Pemuda sebagai generasi penerus pemegang tali kekuasaan nantinya harus melawan segala kerbobrokan yang ada di depannya. Baik itu di area sosial, atau pun politik.
Pemuda Indonesia
Peran pemuda Indonesia dalam kehidupan berbangsa dan bernegara tidak dapat diragukan lagi. Sumpah Pemuda adalah sebuah hasil yang sangat brilian pada zaman itu. Dimana pada tahun 1928 rakyat Indonesia masih dalam kekolotan kesukuan dan keaderahan, bahkan dalam kehidupan beragama sekalipun.
Ketika itu para pemuda tampil bersatu dengan dikumandangkannya lagu Indonesia Raya karya WR. Soepratman. Dan dengan deklarasi pada 28 Oktober 1928 tersebut, seluruh tanah dari kota Sabang sampai Merauke, bagaikan satu kesatuan. Satu kebangsaan, satu bahasa, dan satu persaudaraan walaupun dipisahkan oleh berbagai selat dan laut. Yaitu Indonesia.
Semangat kepemudaan bangsa Indonesia tidak luntur ketika para pendahulunya (Ir. Soekarno dan generasinya) mengalami suatu ‘kegagalan’ dalam memimpin bangsa dan negara. Sikap otoriter dan kekejaman pada tahun 1960-an ditentang oleh para pemuda. Baik itu yang terpelajar (mahasiswa) ataupun rekan-rekannya.
Sikap yang sama juga terlihat pada tahun 1998 ketika para pemuda Indonesia kembali menuntut perubahan atas kediktatoran Jendral Soeharto yang mengkudeta Ir. Soekarno dari jabatan presiden Indonesia. Sikap kekejaman juga ditunjukkan membarengi Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN) yang sangat menonjol dalam setiap kabinetnya. Karena itu, para pemuda Indonesia bangkit melawan kediktatoran dan kekolotan dalam kehidupan bernegara setelah dikerangkeng 32 tahun.
Memang tidak dapat dinafikan peran pemuda dalam kehidupan bernegara terutama dalam perubahan yang telah mereka hasilkan dalam setiap zaman. Kebangkitan nasional, kemerdekaan, revolusi, sampai reformasi. Bagi mereka serasa tidak ada kekolotan dalam kehidupan bernegara dan berpolitik. Karena merekalah yang akan meneruskan estafeta kepemimpinan bangsa dan negara.
Permasalahan Pemuda
Permasalahan yang sering dihadapi oleh para pemuda di belahan dunia adalah masalah pergaulan. Dimana pun. Bahkan setiap tahun, rakyat Amerika membelanjakan US$10 billon untuk bahan pornografi manakala pada tahun 2003, Negara itu membelkanjakan US$396 billion untuk perlengkapan tentaranya.[3]
Permasalahan utama yang dihadapi oleh generasi muda adalah pergaulan antara laki-laki dan perempuan. Ada cerita tentang seorang ayah dan anaknya ketikaberjalan-jalan di taman Haid Park yang terkenal. Di dalam taman tersebut, si anaknya mendapati sepasang kekasih yang berhubungan sexual di taman tersebut. Lalu si anak bertanya kepada ayahnya “Mereka sedang apa ?” Si ayah menjawab “Mereka itu binatang” Si anak bertanya lagi “Apa yang binatang itu kerjakan?” Maka si ayah enggan menjawabnya dan langsung pulang.
Kisah di atas hanya salah satu dari sekian kasus yang ada di dunia. Belum lagi kasus Homosexual (Gay atau Lesbian) yang sangat jorok. Dan akibatnya adalah banyaknya yang terjangkitnya virus HIV dan penyakit AIDS.[4] Permasalahan dalam pergaulan memang masalah yang sangat serius.
Selain itu banyak juga di kalangan pemuda sekarang yang sangat ketinggalan informasi sehingga dapat dengan mudah dimanfaatkan oleh orang-orang jahat yang mempunyai kepentingan pribadi dan golongannya sendiri. Apalagi banyak pemuda yang masih mengidap penyakit hedonistik dan hanya mementingkan kesenangannya dikala banyak kawan-kawan sebayanya dan bahkan adik-adiknya yang hidup kelaparan dalam keterbelakangan.
Pendidikan Sebagai Solusi
Sebagai Umat Islam, Agama yang diridhoi Allah swt., jangan samapi kita kembali dalam lubang kokolotan dan kejumudan dalam kehidupan. Oleh karena itu pendidikan perlu digalakkan ketika zaman keemasan mulai muncul.
Asas utama yang harus melatar belakangi semua bentuk pemikiran dan kerangka tindakan generasi muda di dalam mengembalikan zaman kememasan peradaban Islam ialah pendidikan. Usaha yang bersepadu dalam menyantuni sistem pendidikan yang mewujudkan pencerahan pemikiran dan menyanjung tingginya akahlak harus menjadi yang utama dalam menyanjung Islam dengan segala nuansa kehidupan walaupun di tengah-tengah kemajuan sains dan teknologi barat.[5]
Oleh karena itu kehidupan berbudaya perlu digalakkan. Budaya apa saja yang dapat mencemerlangkan dan dapat mengangkat derajat bangsa dan agama Islam. Ada empat budaya kecermelangan adalah satu, Budaya ilmu. Senantiasa dalam suasana keilmuan dalam setiap kesempatan; dua, budaya beragama. Senantiasa merujuk dan beramal dalam rangka sebagai hamba Allah swt; tiga, budaya berkepemiminan. Budaya hidup berorganisasi; adanya pemimpin dan pengikut; empat, budaya berjati diri. Kenal akan sejarah bangsa, kekuatan, kelemahan bangsa. Hidup sebagai bangsanya, beramal dan mempertahankan identitas bangsanya. [6]
Selain pendidikan sektor materiil (ilmu pengetahuan dan teknologi), pendidikan di sektor pemikiran dan ruhani perlu ditamankan kepada para pemuda agar dapat menyeimbangi besarnya arus globalisasi dan menjaga mereka agar tidak terjebak dalam jurang hedomisme dan pemikiran yang menyesatkan.
Segbagai contoh, ada enam arah (sisi) pendidikan yang diterapkan oleh Ikhwanul Muslimin kepada para pemudanyanya. Keenam arah tersebut diceritakan oleh DR. Yusuf Qordhowi dalam bukunya, Tarbiyah Islamiyah Wa Madrasah Hasan Al-Banna. Keenam arah tersebut adalah :
Sisi pemikiran. Berfikir bahwa ajaran Islam adalah ibadah, meminta petunjuk adalah kewajiban, menuntut ilmu wajib, dan berfikir bahwa jumud adalah suatu yang hina, dan taqlid adalah tercela.
Sisi akhlaq. Sisi inilah yang sangat diperhatikan karena sebagai awal perubahan hidup bermasyarakat.
Sisi jasmani.
Sisi jihad. Yang maknanya lebih luas dari pada kemiliteran.
Sisi sosial.
Sisi politik. Yang berhubungan dengan masalah hokum, Undang-undang, hubungan pemerintah dan rakyat, dan hubungan intyernasional (Diplomasi). Ada tiga pelajaran penting dalam pendidikan politik dalam Ikhwan Muslimin. Satu, pentingnya kemerdekaan dari segala bentuk penjajahan; dua, kesadaran dalam menegakkan hokum Allah swt di muka bumi; tga, kesadaran untuk menyatukan umat dalam satu ikatan persaudaraan.
Jika kedua sisi pendidikan yaitu pendidikan pada ilmu pengetahuan dan teknologi serta pendidikan ruhani dan pemikiran dapat berjalan dengan seimbang, maka tidak diragukan lagi akan dapat melahirkan generasi-generasi yang unggul dan siap berkancah dalam segala area kehidupan.
Harapan Kepada Pemuda
Harapan akan perubahan dalam berkehidupan sekarang tertumpu kepada para pemuda yang merupakan penerus dan juga harapan masa depan. Banyak sekali harapan dari para tokoh nasional dan juga tokoh internasional akan bangkitnya Indonesia dari keterbelakangan dan keterpurukan pada pemuda sekarang. Terutama tokoh-tokoh Islam.
Justeru pemimpin muda Islam harus berusaha sungguh-sungguh untuk memehami sistem yang melatar belakangi pentas politik dunia. Para pemimpin Islam mesti mewujudkan budaya membaca dan menghadam secara serius pembahasan isu-isu global serta kritis dengan keputusan-kjeutusan yang dibuat di dalam sistem PBB (Persarikatan Bangsa Bangsa) yang secra langsuing melibatkan nasib umat Islam dan kesejahteraan dunia secara umum. Pemahaman yang jelas juga harus diprakarsai dengan ikut terlibat dalam strategik di tingkat-tingkat tertentu.[7]
Kita perlu berusaha keras untuk melahirkan kepemimpinan muda yang bukan hanya dapat memimpin, tetapi dapat mengurus, pendidik – al-qaidul murabbi dan memiliki daya fakir yang dapat melahirkan pemimpin-pemikir – al-qaidul mufakir yang dapat berperan sebagai pemimpin perubahan. [8]
Harapan Masyarakat terhadap Cendikiawan Muslim[9] diantaranya adalah satu, sebagai sumber inspirasi; dua, sebagai khazanah ilmu; tiga, sebagai salah satu rujukan yang mampu menjelaskan suatu masalah; empat, sebagai contoh (suri tauladan) sebagai pembangkit kesadaran.
Dalam kehidupan bernegara harapan kepada para pemuda sangatlah besar. Karena mereka adalah para penerus yang akan melanjutkan jalannnya kehidupan generasi tua dalam bernegara.
DR. Yusuf Qordhowi menuliskan di bukuinya Min Fiqh Daulah Fi Al-Islam tentang tiga jalan (sarana) dalam beramar ma’ruf nahi munkar dalam pemerintahan. Yaitu lewat senjata, majlis perwakilan rakyat, dan demonstrasi. Jika ketiga tidak dapat membendung kemunkaran dalam suatu pememrintahan, maka hendaklah mendidik generasi muda agar dapat menlanjutkan estafeta amar ma’ruf nahi munkar.
Akhlak (moral) seorang pemuda tidak hanya perlu diperbaharui dalam ruang lingkup pergaulan saja. Tetapi juga akhlak dalam berpolitik sebagai bibit penopang keberhasilan dalam mengembalikan kembali keemasan umat Islam dari Indonesia. Sehingga kehidupan pada masa depan benar-benar manjadi zaman yang telah kita harapkan dari dulu. Yaitu zaman yang berkemajuan dan kuat dalam beriman. Dengan pemimpin yang berkualitas dalam ilmu pengetahuan dan kepemimpinan dan terlandsasi dengan budi luhur.
Penutup
Jika kita kembali membaca sejarah umat Islam, kita akan menenukan sebuah peradaban yang keemasaannya mengalami maju mundur- maju mundur, dan tidak tertentu arahnya. Ini disebabkan oleh kekolotan dan tirani yang kejam di balik baju emas ilmu pengetahuan dan pemikiran yang tidak dilandasi oleh sikap toleransi dan akhlak yang mulia serta sikap yang mementingkan kepentingan pribadi, keluarga dan golongan. Hanya para pemuda yang ada pada golongannya lah yang terdidik. Di luar itu, para pemuda yang menjadi “oposisi” menjadi sebuah bom waktu yang setiap saat meledak dengan pemberontakan yang dapat menumbangkan kerajaan.
Oleh karena itu dalam mendidik para pemuda jangan hanya tebang pilih golongan sendiri. Akibatnya sangat besar sekali karena pemuda yang menikmati pendidikan dnegan yang tidak akan bertarung pada masa depan. Sehingga dapat dipastikan akan terjadi perang pemikiran dan bisa juga menjaid perang fisik.
Dalam mengajak pemuda untuk memasuki area pendidikan akan menemui berbagai perkara menarik. Ada yang mudah. Ada yang susah. Perlu suatu daya tarik yang dapat menimbulkan kesadaran pada diri pemuda sehingga pendidikan yang bermuara pada iman, takqa dan akhlak dapat mereka nikmati.
Permasalahan pemuda memang sangat kompleks ada di depan mata kita. Tetapi, bagaimana pun, mereka adalah harapan bangsa masa depan. Di tengah perjuangan dalam menuntut perubahan, masalah yang para pemuda hadapi adalah masalah pergaulan. Tidak dapat dipungkiri lagi. Kejadian-kejadian yang kita dengar dari berbagai media adalah masalah di depan kita. Itu karena pemikiran mereka telah diracuni oleh berbagai iming-imingan yang sangat menggiurkan.
Kita lihat saja peristiwa-peristiwa menggegerkan yang diledakkan oleh para pemuda yang berkumpul dalam Jaringan Islam Liberal. Oleh karena itu kekuatan yang diperoleh dari pengajaran ilmu pengetahuan kepada generasi muda Islam harus dimanfa’atkan untuk membentuk pandangan umum masyarakat tentang isu-isu yang melibatkan kepentingan masyarakat.[10]
Semangat para pemuda dalam memperjuangkan kebebasan perlu dikontrol dengan saksama agar dalam menjalankannya bisa berjuang dengan baik sesuai hati nurani yang berbudi luhur. Jangan sampai terjebak dalam lubang pemikiran yang sesat ataupun lubang hedonisme yang berujung pada kerusakan moral mereka. Pemudalah dasar tombak tegaknya moralitas dan disintegrasi Negara kesatuan Republik Indonesia.
Sekarang kita memerlukan orang yang berfikir dan sanggup untuk berbuat suatu tindakan berkali-kali, terkun tanpa putus asa sehingga berjaya. Kita tidak mahu sindrom sekatat mengatakan “saya dah tahu” atau “ini sudah ada dalam Islam” atau sebagainya, tetapi katakanlah “saya akan / sedang bertindak untuk memastikan kejayaan”.[11]
Kalimat penutup yang paling cocok untuk menutup tulisan ini adalah “Bukanlah seorang pemuda namanya jika mengatakan ‘inilah bapakku’ tetapi pemuda yang sesungguhnya akan mengatakan ‘inilah aku’. (Hikmah) Ku serahkan karya ini...!
Sebelum kita membayangkan bagaimana indahnya masa depan para pemuda, kita harus lebih dahulu merasakan susahnya menciptakan para pemuda masa depan. Gejala, situasi dan kondisi bangsa di segala bidang kehidupan bersimbiotik secara alami dengan para pemuda dan generasi berikutnya. Ini pula yang mengakibatkan terkikisnya intelektualitas, kecerdasan emosi dan spiritualitas para pemuda dalam menyikapi krisis multidimensi dewasa ini.
Pemuda adalah aset bangsa yang sangat berharga namun justru semangat kebangsaan mereka habis terkuras untuk berbagai aktivitas politik harian yang melelahkan sebagai efek dari krisis, konflik, dan bencana, sehingga tidak punya lagi energi untuk menyusun imajinasi masa depan Negara-Bangsa. Belum lagi timbulnya gap antar generasi yang cenderung menuju pada sikap permusuhan yang radikal dan konseptual antara “yang serba sama” dengan “yang serba lain”, permusuhan yang menganggap tidak ada gunanya memikirkan hubungan antar manusia, terutama antar generasi.
Berhadapan dengan pudarnya semangat kebangsaan generasi muda dan pengaburan cita-cita proggresssiv di masa depan, maka berbagai imajinasi populer yang hidup subur di dalam berbagai media yang mempunyai daya pengaruh besar terhadap masyarakat -lewat berbagai fenomena materialisme dan hedonisasi- ikut memengaruhi imajinasi-imajinasi kebangsaan lewat bersimbiosisnya budaya politik dengan budaya massa, yang menggiring ke arah berbagai pendangkalan dan banalitas makna politik dan kebangsaan. Imajinasi-imajinasi populer itu sesungguhnya tidak produktif dalam rangka membangun sebuah imajinasi masa depan yang lebih autentik, yang terlepas (selera umum) itu sendiri.
Namun di lain sisi, agaknya tidak salah jika sebagian orang mengatakan bahwa nasionalisme pemuda kita telah berubah menjadi materialisme dan hedonisme, patriotisme telah berubah menjadi apatisme. Fenomena ini dapat kita tangkap dari keengganan sebagian pemuda kita untuk memikirkan masalah kebangsaan. Kegamangan pemuda dalam menghadapi permasalahan bangsa dapat mengurangi agresivitas pembangunan bangsa.
Sebab lain yang menjadi pemicu lunturnya semangat kebangsaan pada generasi muda saat ini, karena kejenuhan para pemuda dalam memandang wacana kebangsaan yang dikumandangkan elite politik kita. Mereka melihat tidak adanya figur teladan yang mampu memberikan kontribusi nyata bagi perbaikan keadaan bangsa. Selain itu, sebab lainnya adalah tidak adanya kepercayaan dari golongan tua kepada golongan muda untuk mengadakan transfer ilmu, pengalaman dan kewenangan. Banyak kaum muda yang merasa bahwa kemampuan mereka dalam suatu bidang kurang bisa ditampilkan secara maksimal oleh karena tidak adanya kesempatan untuk menduduki posisi yang penting dalam menentukan kebijakan di negeri ini. Sebagian besar elit politik kita masih memegang paradigma lama yang kurang menghargai profesionalisme dan lebih mementingkan koneksi.
Tidak adanya solidaritas antar generasi hanya membuahkan egoisme di lingkungan generasi yang sama. Hal tersebut dapat dikatakan sebagai ancaman, bukan hanya untuk generasi mendatang tetapi juga dalam makna kebangsaan, bahkan bagi pengertian kemanusiaan itu sendiri; Kemanusiaan yang beradab. Jadi yang sebenarnya teringkari oleh retret temporal dan simbolik dewasa ini adalah justru struktur “hidup bersama” baik dalam orientasi sinkronisnya (solidaritas antar orang) maupun orientasi diakronisnya (solidaritas antar usia). Sedangkan “hidup bersama” ini, vivre ensemble -menurut Ernest Renan dan sering dikutip oleh Bung Karno, justru merupakan salah satu dasar pokok dari pembentukan Negara-Bangsa.
Adanya tirani urgensi dengan gaya dadakannya, juga membuat kriteria aksi yang simpel -fleksibilitas dan adaptasi- menjadi asas absolut dalam pengambilan keputusan. Keluwesan ini bisa saja membuahkan manfaat sesaat, terutama di latar politik, bahkan ada yang membaptiskannya sebagai “demokrasi”. Namun keluwesan ini membawa risiko yang kefatalannya baru terasa dalam jangka panjang, sesudah terlambat, dan setelah generasi mendatang terjebak dalam entropi dan immobilisme.
Berhubung pembawaan alami urgensi adalah mengabaikan pandangan perspektif dan antisipasi, gerakan dari satu adaptasi sesaat ke adaptasi sesaat lain yang terus menerus hingga membudaya, membuat setiap langkah pemecahan instan yang diambil semakin menjauhi cita-cita semula, semakin menyimpang dari tujuan kolektif awal. Sedangkan elaborasi jawaban yang relatif kekal terhadap masalah-masalah manusia, pembangunan dan lingkungan, menuntut adanya suatu pandangan berjangka temporal jauh dan diarahkan ke masa depan.
Mengingat generasi sekarang bisa belajar dari berbagai kekeliruan dan kegagalan generasi sebelumnya, sepatutnya lebih dapat terhindar dari reproduksi sejarah yang buram. Maka generasi muda seharusnya merasa terpanggil untuk melawan, berusaha keras untuk tidak terjebak dalam perangkap ganda yang berupa realisme katastropis (keingkaran) dan utopia ilusif (retret) sebagaimana disebut pada bagian awal tulisan. Dalam konteks itulah, sebuah konsolidasi gerakan kaum muda harus terus-menerus digalang dan diperkuat. Konsolidasi itu tak cukup dengan sumpah, tapi perlu kesadaran untuk menggabungkan kekuatan moral, intelektual, profesional, dan perjuangan dalam berbagai aspek kehidupan agar mampu membentuk suatu perspektif temporal baru, merintis jalan ke arah jauh ke depan. Merubah tatapan dan penalaran tentang masa depan. Pendek kata, pemudalah kandidat utama demi merehabilitasi masa depan.
Generasi muda calon pemimpin bangsa ini di kemudian hari dituntut agar mempunyai visi prospektif, pandangan atas sesuatu di masa depan bukan sebagai realitas tersembunyi yang sudah memiliki suatu eksistensi dan dapat ditemukan orang dengan menggunakan metode-metode ilmiah yang sesuai, tetapi lebih berupa hasil yang telah diprakirakan, atau diperoleh secara sengaja, sistematik, konsisten dan terarah sebelumnya. Jadi visi progressif dibangun berdasarkan postulat bahwa para pemuda terpanggil untuk membangun masa depan diri dan bangsanya agar benar-benar siap dalam menghadapi tantangan perubahan zaman yang beraneka ragam, meski tidak pasti serta serba kompleks. Sebab itu adanya keharusan untuk merenung ke depan setiap kali timbul keperluan dalam mengambil keputusan-keputusan yang signifikan. Pemuda harus kembali mengambil peran-peran monumental sehingga menjadi pijakan kokoh untuk langkah pembangunan selanjutnya.

 Pemuda dan Tantangan Masa Depan

Peringatan Hari Sumpah Pemuda (HSP) tahun ini mengusung tema “Bangun Karakter Pemuda Demi Bangsa Indonesia Yang Maju dan Bermartabat”. Topik tersebut relevan dengan kondisi saat ini. Berbagai kritik tentang kondisi kepemudaan saat ini tak terlepas dari isu karakter itu.
Beberapa kalangan menganggap pemuda saat ini bermental pragmatis. Ada pula yang menyebut makin terkikisnya spirit nasionalisme, anak muda cenderung cuek, apatis dan senang mencari jalan pintas (instan). Mereka saat ini dianggap lemah, kurang gigih dan kehilangan identitas diri. Belum lagi jika harus dirunut masalah lain seperti kasus tawuran, konflik,  pergaulan bebas, pengguna narkoba, lemahnya daya saing hingga angka pengangguran yang cukup besar.
Kritik diatas sesungguhnya memang wajar. Hal itu diperlukan agar menjadi pemacu bagi kaum muda saat ini untuk bangkit. Tengoklah sejarah dan bandingkan dengan torehan tinta emas generasi tempo dulu. 82 tahun lalu, pemuda Indonesia berikrar dalam sebuah sumpah yang begitu mempesona.
Lantas pertanyaannya, dimana pemuda hari ini? disaat bangsa menghadapi kepungan masalah. Masih pantaskah pemuda menjadi harapan bangsa? Bagaimana nasib bangsa dimasa depan?
Sebenarnya ada poin progresif dalam Undang-undang Nomor 40 tahun 2009 tentang Kepemudaan. Pasal 1 menyebutkan pemuda adalah warga negara Indonesia yang memasuki periode penting pertumbuhan dan perkembangan yang berusia 16 sampai 30 tahun. Hal ini menegaskan adanya spirit yang kuat perlunya akselerasi, kaderisasi dan regenerasi.
Namun sayangnya, substansi UU diatas belum tersosialisasi secara baik di semua stakeholders yang terkait kepemudaan. Hal itu terbukti masih banyak organisasi kepemudaan yang pengurusnya berumur lebih dari 30 tahun.
Dari sisi jumlah, generasi sesuai kriteria umur diatas sekira 62 juta jiwa (BPS, 2009). Jumlah itu berarti sekira 27 % dari jumlah penduduk. Hal itu berarti strategi pembangunan pemuda memiliki arti penting bagi masa depan bangsa. Pembangunan pemuda harus dibangun secara menyeluruh baik dari aspek potensi, tanggungjawab, aktualisasi diri dan cita-cita pemuda. Hal itu diperlukan dalam rangka menyiapkan calon-calon pemimpin bangsa dimasa depan.
Dalam konteks UU diatas, terdapat 3 isu strategis dalam pembangunan pemuda yaitu program penyadaran, pemberdayaan dan pengembangan pemuda. Penyadaran pemuda adalah kegiatan yang diarahkan untuk memahami dan menyikapi perkembangan dan perubahan lingkungan. Pemberdayaan pemuda adalah kegiatan membangkitkan potensi dan peran aktif pemuda. Sedangkan pengembangan pemuda diprioritas melalui pengembangan kepemimpinan, kewirausahaan dan kepeloporan.
Tantangan masa depan
Tantangan dimasa depan jelas akan makin kompleks dan berat. Pemuda harus siap mengantisipasi perubahan-perubahan yang berlangsung begitu cepat di era globalisasi ini. Pemuda saat ini berarti gambaran bangsa dimasa depan. Menurut hemat penulis ada beberapa agenda yang penting dijadikan bahan perenungan bersama;
Pertama, pembangunan karakter pemuda harus dijadikan prioritas. Sesuai Pasal 3 UU Kepemudaan diatas, tujuan pembangunan pemuda adalah untuk mewujudkan pemuda yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, cerdas, kreatif, inovatif, mandiri, demokratis, bertanggung jawab, berdaya saing, serta memiliki jiwa kepemimpinan, kewirausahaan, dan kepeloporan. Dalam aspek ini jelas pendidikan, penanaman nilai-nilai moral dan agama, jiwa sosial, apresiasi budaya, penanaman kearifan lokal dan lain-lain memegang peran penting.
Kedua, perlunya perubahan dan pendekatan baru dalam program kepemudaan. Dalam konteks manajemen perubahan (Berger, 1994) diperlukan penyelarasan dalam 4 faktor penting yaitu strategi, implementasi/operasi (operations), budaya dan sistem imbalan (reward system). Barangkali diperlukan strategi kepemudaan yang baru dan lebih segar. Strategi itu perlu direalisasikan melalui pendekatan yang lebih menarik.
Perubahan budaya juga diperlukan untuk mewujudkan tujuan diatas. Pragmatisme dan budaya senang mencari jalan pintas misalnya, harus diubah menjadi budaya kerja keras, jujur, ulet dan pantang menyerah. Budaya ini terkait sekali dengan apresiasi dan penghargaan. Dalam program kepemudaan mestinya banyak digelar ajang kompetisi yang dapat menggali potensi pemuda, baik di bidang sains, teknologi, budaya, maupun olahraga. Perlu dibangun budaya merit system.
Sayangnya, saat ini yang lebih tampil ke permukaan adalah ajang kompetisi di bidang hiburan. Acara audisi yang digelar oleh beberapa stasiun TV swasta selalu diminati ribuan bahkan jutaan anak muda. Apresiasi yang muncul cukup tingi. Padahal mestinya negeri ini juga harus memberi apresiasi yang tinggi bagi para pemenang lomba di bidang akademik, para penulis, juara olimpiade, atlet yang berprestasi serta seniman muda yang berjasa mengawal nilai-nilai moral dan etika.
HMINEWS- Sekian puluh tahun telah dilalui bangsa ini dalam mengusung kemerdekaannya, namun perubahan menuju masyarakat yang sejahtera seakan masih menjadi sebuah jalan panjang yang tak tahu dimana ujungnya. Bergantinya rezim pemerintahan dari masa ke masa seolah hanya menjadi sebuah rutinitas sakral dan ajang pertunjukan kekuasaan. Kesejahteraan masyarakat yang menjadi cita-cita utama perubahan hanya menjadi simbol jualan pasar menuju kekuasaan.
Bangsa mana yang akan mengatakan masyarakatnya sejahtera jika tingkat kemiskinan mencapai 13,33 persen dengan jumlah penduduk miskin hingga 31 juta orang, ini adalah sebuah kegagalan yang dibiarkan atau kasarnya disengaja. Kemiskinan semakin meningkat akibat ulah para penguasa yang mana meraka adalah para pemimpin di negeri ini, mereka telah menorehkan tinta hitam dengan menjadikan Negara kita Indonesia sebagai Negara nomor satu paling korup di dunia
Perubahan Komprehensif
Sebagai generasi pelanjut, kami menginginkan sebuah perubahan yang mendasar, perubahan yang komprehensif dan substantif, meliputi seluruh bidang kehidupan dan sisi normatif bagi seluruh masyarakat. Bukan sekedar perubahan yang sifatnya parsial dan hanya menjadi solusi sesaat, yang pada akhirnya akan kembali melahirkan masalah-masalah baru. Seperti hutang Negara kita kepada bank dunia yang sedemikian besar hingga mencapai angka Rp.250 triliun, mereka mengatakan ini adalah sebuah solusi padahal hutang-hutang itu akan menjadi beban bagi kami generasi di masa depan. Dalam mewujudkan perubahan ini, memang dibutuhkan keterlibatan dari berbagai pihak, baik itu pemerintah, praktisi, ilmuwan, dan masyarakat sipil termasuk di dalamnya para pemuda yang sedianya bersungguh-sungguh dalam melakukan perubahan. Seorang pemuda diharapkan mampu berperan aktif sebagai kekuatan moral, kontrol sosial, dan agen perubahan dalam segala aspek pembangunan nasional.
Saya kira hal inilah yang menjadi salah satu tantangan bagi para pemuda masa kini yang sering disebut sebagai calon pemimpin bangsa masa depan. Pemuda yang di maksud adalah mahasiswa yang sedianya dikenal sebagai kalangan intelektual. Mahasiswa merupakan tingkatan dimana seseorang itu telah mampu menemukan jati diri atau pematangan diri. Sehingga pada tahapan ini proses pendidikan atau wawasan yang di terima sangat menentukan bagi masa depan mereka. Kemudian selanjutnya adalah bagaimana pemuda-pemuda ini mampu tampil sebagai seorang pemimpin di masa depan. Tentu hal mendasar yang harus diupayakan adalah melatih dan menanamkan karakter kepemimpinan mulai dari sekarang. Karena jiwa kepemimpinan dikalangan pemuda saat ini masih menjadi sebuah masalah dan tuntutan yang harus terus diasah dan ditingkatkan kualitasnya selain basis keilmuan/kompetensinya. Keberadaan Universitas atau Perguruan Tinggi merupakan salah satu basis strategis untuk menggiatkan hal tersebut, begitupun dengan keberadaan organisasi kepemudaan diharapkan mampu memberikan motifasi tersendiri bagi mereka dalam menguasai dan meningkatkan keilmuan atau prestasi akademiknya. Karena pengembangan kepemimpinan pemuda merupakan kunci utama dalam melahirkan pakar atau ilmuwan yang memiliki jiwa kepemimpinan. Hal ini sangat penting dilakukan, agar nantinya pemimpin yang memegang peranan bukanlah orang-orang karbitan yang langsung jadi pemimpin dalam sehari seperti kebanyakan sekarang ini, yang tanpa melalui tahapan-tahapan pendewasaan moral, kearifan intelektual dan kapasitas kebijakan kemudian melakukan perbuatan hina dengan mencuri uang Negara, menjual aset kepada asing dan lebih mementingkan kepentingan pribadi atau kelompoknya.
Oleh karenanya, seorang pemuda tidak boleh berpangku tangan tanpa ada partisipasi dalam mewujudkan agenda perubahan bangsa ini. Belajar dan bergerak merupakan indikator kebaikan hidup bagi seorang pemuda. Karena semua yang belajar dan bergerak akan mendatangkan kebaikan dan perubahan. Tuntutan bagi para pemuda untuk bergerak dikarenakan bahwa pemuda adalah sosok yang energik dan memiliki semangat intelektual. Kemudian sebagai entitas masyarakat, pemuda juga berusaha kritis terhadap kondisi masyarakatnya dan berusaha mengungkapkan realitas dan fakta-fakta yang terjadi di masyarakat, dan menyampaikan langsung kepada para penguasa dan mampu mengambil kebijakan. Pada akhirnya pemuda menjadi tumpuan bagi masyarakat untuk terus menyuarakan perubahan dalam hal kebaikan.
Membaca Kitab realitas
Untuk menjawab tantangan kepemimpinan masa depan, membaca realitas dimasa kini adalah kuncinya. Melihat banyaknya tokoh yang pakar saat ini tetapi keberadaannya tidak berpengaruh atau tidak memiliki kekuatan untuk melakukan sebuah aksi massif dalam mengusung idealismenya atau gagasannya. Sehingga seorang pemuda di masa kini dituntut memiliki jiwa kepemimpinan (leadhership), hal ini sangat menentukan kapasitasnya sebagai figur yang memang layak di jadikan teladan atau pemimpin. Yang mana kita ketahui bahwa setiap proses perubahan sangat dipengaruhi oleh para pemimpin. Terlebih lagi dalam struktur dan budaya sosial yang paternalistik. Sehingga dalam mewujudkan masyarakat yang sejahtera, bangsa ini harus memiliki pemimpin yang amanah, mau bekerja keras, dan mampu mengarahkan serta menggerakkan massanya untuk bersama berjuang mencapai cita-cita perjuangannya. Hal inilah yang menjadi harapan bagi seluruh masyarakat Indonesia.
Tidak berlebihan jika saya mengatakan, seorang pemuda atau mahasiswa yang ingin belajar tentang kepemimpinan haruslah memulai dengan bergabung disebuah organisasi baik itu organisasi kemahasiswaan maupun masyarakat. Hal ini dibutuhkan sebagai upaya menguatkan pola pikir dan integritas serta mengasah jiwa kepemimpinan mulai sekarang. Dapat dikatakan berorganisasi bagi seorang calon pemimpin bangsa adalah bersifat permanen, bukan kondisional, karena organisasi merupakan mikrokosmos atau dunia kecil yang dengannya kita mampu mempelajari dan mengkaji lebih jauh menuju tatanan masyarakat yang nyata. Terlebih dalam konteks masyarakat yang telah mengglobal seperti sekarang ini dimana suara kolektif adalah lebih powerfull dibandingkan suara individu per-individu. Sehingga keberadaan seorang dalam sebuah LSM, Ormas, Orpol, Perhimpunan Profesi akan lebih memiliki nilai yang lebih manakala mereka mewacanakan sebuah kebijakan ataupun opini publik dibandingkan secara individu. Sehingga pada tahapan ini di harapkan akan lahir Sumber daya manusia yang unggul atau qualifaid, dimana mereka bukan hanya orang-orang intelektual yang berprestasi tetapi juga memiliki jiwa kepemimpinan karena untuk menjadi seorang pemimpin di tingkat daerah, nasional, kawasan maupun internasional setidaknya dibutuhkan orang yang memiliki kompetensi dan berjiwa kepemimpinan.
Selamat Berkompetisi Pemimpin Muda
Sumber daya manusia unggul atau kualifaid adalah personil yang memiliki nilai tinggi. Hanya orang-orang tersebutlah yang sanggup berkompetisi di zaman ini. Di era globalisasi, seorang pemuda diharapkan banyak belajar serta mampu membuat konsep dan strategi untuk masa depan sehingga bangsa ini dapat bersaing dengan Negara lain baik dalam hal perkembangan ekonomi, politik dan militer antar bangsa yang kita lihat sangat kompetitif, hal ini dibutuhkan untuk mewujudkan sebuah tatanan masyarakat Indonesia yang sejahtera.
Masyarakat Indonesia yang sejahtera adalah cita-cita besar dari sebuah perubahan yang diinginkan bangsa ini. Hal tersebut dapat kita capai jika generasi bangsa hari ini menyadari sepenuhnya bahwa di tangannyalah perubahan itu akan terwujud. Serta keterlibatan pemerintah dalam memberikan fasilitas baik yang sifatnya pelayanan, penyadaran, pengembangan, kemitraan maupun penghargaan turut menentukan perubahan ini. Kemudian yang terakhir, dengan kapasitas yang dimiliki oleh pemuda tersebut diharapkan mampu membawa dirinya menjadi figur teladan di masyarakat, sehingga masyarakat akan percaya bahwa merekalah yang pantas dan sanggup memimpin Indonesia masa depan

Sumpah Pemuda 2010; Selamatkan Indonesia!              

HMINEWS.COM- Satu negara, Negara Kesatuan Republik Indonesia, Satu Haluan, Bhineka Tunggal Ika, Satu Tekad, Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia

Bangkitlah Pemuda, Jangan Diam

Seusai Demo 20 Oktober 2010, Mahasiswa, Pemuda dan aktivis sosial yang peduli pada sejarah bangsa kembali akan melakukan Demo Lebih Besar lagi yang rencananya dilaksanakan tanggal 28 Oktober 2010. Hari itu dikenal sebagai Hari Peringatan Sumpah Pemuda yang secara essensial mempunyai makna tekad sebuah bangsa untuk merdeka. Peringatan Sumapah Pemuda 2010 tahun ini, akan menjadi relevan jika dibarengi tekad Pemuda Indonesia, dengan Sumpah Pemuda yang berisi tekad untuk kembali sebagai bangsa yang berdaulat penuh, tanpa campur tangan kekuanan asing dalam semua bidang kehidupan berbangsa.
Hal ini perlu ditekankan mengingat Ibu Pertiwi semakin bersedih, air mata berlinang membanjiri setiap sudut negeri ini dengan kisah dominan kemiskinan dan kemelaratan. Bangsa kaya raya, Nuswantara negeri agung yang gemah ripah loh jinawi, kini justru menjadi bangsa kuli di negeri sendiri. Berikut catatan yang perlu diketahui oleh kita semua, agar kita benar-benar memahami realita, termasuk dalam mensikapi tekad para soehartois yang ingin menjadikan bosnya sebagai pahlawan nasional, sebuah gelar yang hanya berhak untuk diberikan kepada mereka yang benar 2 “heroik” dalam hidupnya.
Terjerat Kekuatan Barat
 Keterlibatan AS dalam kupdeta militer yang merangkap di tahun 1965 di Indonesia sudah banyak ditulis. Bung Karno (BK)                                                                                  yang mempunyai visi jauh kedepan sudah menetapkan bahwa Indonesia adalah non blok, mandiri (berdikari), dan tidak mau tergantung pada utang luar negeri (“Go to hell with your aids!”). Sayang sekali, Soeharto dkk. melakukan konspirasi dengan USA (via CIA) menusuk bangsanya sendiri. Negara-negara sahabat Bung Karno, sperti RRC dan India, yang mempunyai prinsip serupa dengan BK dan tidak mempunyai pengkianat negara semacam Soeharto Cs., saat ini sudah menjadi bangsa yang sehat, normal, bahkan adidaya! Presiden SBY baru-baru ini terpaksa mengulangi langkah BK lagi dengan mengunjungi RRC dan India.
Dalam buku yang ditulis John Pilger dan yang juga ada film dokumenternya, dengan judul The New Rulers of the World, antara lain, dikatakan: “Dalam dunia ini, yang tidak dilihat oleh bagian terbesar dari kami yang hidup di belahan utara dunia, cara perampokan yang canggih telah memaksa lebih dari sembilan puluh negara masuk ke dalam program penyesuaian struktural sejak tahun delapan puluhan, yang membuat kesenjangan antara kaya dan miskin semakin menjadi lebar”.
Sejak 1967 Indonesia sudah mulai dihabisi (plundered) dengan tuntunan oleh para elite bangsa Indonesia sendiri yang ketika itu berkuasa. Sejak itu, Indonesia dikepung oleh kekuatan Barat yang terorganisasi dengan sangat rapi. Instrumen utamanya adalah pemberian utang terus-menerus sehingga utang luar negeri semakin lama semakin besar. Dengan sendirinya, beban pembayaran cicilan utang pokok dan bunganya semakin lama semakin berat. Kita menjadi semakin tergantung pada utang luar negeri.
Ketergantungan inilah yang dijadikan leverage atau kekuatan untuk mendikte semua kebijakan pemerintah Indonesia. Tidak saja dalam bentuk ekonomi dan keuangan, tetapi jauh lebih luas dari itu. Utang luar negeri kepada Indonesia diberikan secara sistematis, berkesinambungan, dan terorganisasi secara sangat rapi dengan sikap yang keras serta persyaratan-persyaratan yang berat. Sebagai negara pemberi utang, mereka tidak sendiri-sendiri, tetapi menyatukan diri dalam organisasi yang disebut CGI.
Setelah keuangan negara dibuat bangkrut, Indonesia diberi pinjaman yang tidak boleh dipakai sebelum cadangan devisanya sendiri habis total. Pinjaman diberikan setiap pemerintah menyelesaikan program yang didiktekan oleh IMF dalam bentuk LoI demi LoI. Kalau setiap pelaksanaan LoI dinilai baik, pinjaman sebesar rata-rata USD 400 juta diberikan. Pinjaman ini menumpuk sampai jumlah USD 9 miliar, tiga kali lipat melampaui kuota Indonesia sebesar USD 3 miliar. Karena saldo pinjaman dari IMF melampaui kuota, Indonesia dikenai program pemandoran yang dinamakan Post Program Monitoring.
Yang paling akhir menjadi kontroversi adalah sikap beberapa menteri dalam Kabinet Indonesia Bersatu terhadap uluran tangan spontan dari beberapa kepala pemerintahan beberapa negara Eropa penting berkenaan dengan bencana tsunami. Baru kemarin media massa penuh dengan komentar minor mengapa tim ekonomi pemerintah utang lagi dalam jumlah besar sehingga jumlah stok utang luar negeri keseluruhannya bertambah? Ini sangat bertentangan dengan yang dikatakan selama kampanye presiden dan juga dikatakan oleh para menteri ekonomi sendiri bahwa stok utang akan dikurangi. Berdasar pengalaman, saya yakin bahwa kartel IMF yang memaksa kita berutang dalam jumlah besar supaya dapat membayar utang yang jatuh tempo. Buat mereka, yang terpenting memperoleh pendapatan bunga dan mengendalikan Indonesia dengan menggunakan utang luar negeri yang sulit dibayar kembali.
Mafia Berkeley
Mafia Berkeley adalah Organisasi Tanpa Bentuk (OTB). Mereka mempunyai atau menciptakan keturunan-keturunan. Para pendirinya memang sudah sepuh, yaitu Prof Widjojo Nitisastro, Ali Wardhana, Emil Salim, Soebroto, Moh. Sadli, J.B. Soemarlin, Adrianus Mooy, dan masih sangat banyak lagi. Yang sekarang dominan adalah Sri Mulyani, Moh. Ikhsan, Chatib Basri, dan masih banyak lagi. Mereka tersebar pada seluruh departemen dan menduduki jabatan eselon I dan II, sampai kepala biro.
Ciri kelompok itu ialah masuk ke dalam kabinet tanpa peduli siapa presidennya. Mereka mendesakkan diri dengan bantuan kekuatan agresor. Kalau kita ingat, sejak akhir era Orde Lama, Emil Salim sudah anggota penting dari KOTOE dan Widjojo Nitisastro sudah sekretaris Perdana Menteri Djuanda. Widjojo akhirnya menjabat sebagai ketua Bappenas dan bermarkas di sana. Setelah itu, presiden berganti beberapa kali. Yang “kecolongan” tidak masuk ke dalam kabinet adalah ketika Gus Dur menjadi presiden. Namun, begitu mereka mengetahui, mereka tidak terima. Mereka mendesak supaya Gus Dur membentuk Dewan Ekonomi Nasional. Seperti kita ketahui, ketuanya adalah Emil Salim dan sekretarisnya Sri Mulyani.
Mereka berhasil mempengaruhi atau “memaksa” Gus Dur bahwa mereka diperbolehkan hadir dalam setiap rapat koordinasi bidang ekuin. Tidak puas lagi, mereka berhasil membentuk Tim Asistensi pada Menko Ekuin yang terdiri atas dua orang saja, yaitu Widjojo Nitisastro dan Sri Mulyani. Dipaksakan bahwa mereka harus ikut mendampingi Menko Ekuin dan menteri keuangan dalam perundingan Paris Club pada 12 April 2000, walaupun mereka sama sekali di luar struktur dan sama sekali tidak dibutuhkan. Mereka membentuk opini publik bahwa ekonomi akan porak-poranda di bawah kendali tim ekonomi yang ada. Padahal, kinerja tim ekonomi di tahun 2000 tidak jelek kalau kita pelajari statistiknya sekarang.
Yang mengejutkan adalah Presiden Megawati yang mengangkat Boediono sebagai menteri keuangan dan Dorodjatun sebagai Menko Perekonomian. Aliran pikir dan sikap Laksamana Sukardi sangat jelas sama dengan Berkeley Mafia, walaupun dia bukan anggotanya. Ada penjelasan tersendiri tentang hal ini. Presiden SBY sudah mengetahui semuanya. Toh tidak dapat menolak dimasukkannya ke dalam kabinet tokoh-tokoh Berkeley Mafia seperti Sri Mulyani, Jusuf Anwar, dan Mari Pangestu, seperti yang telah disinaylir oleh beberapa media massa.
Peranan Menara Gading dalam Konspirasi Destruktip
Setelah dr. Mahar Marjono sukses mengemban tugas Soeharto dalam “mempersingkat” hidup Bung Karno (meninggal pada usia sekitar 66 th.), maka Mahar Marjono diangkat menjadi Rektor UI. Dengan ini, maka konspirasi tiga serangkai: USA-Militer-UI mulai terjadi. Untuk menguasai SDM top Indonesia, maka dibentuklah mafia Berkeley (yang sipil, yang notabene para oknum akademisi UI) dan mafia West Point (yang militer, yang notabene para oknum petinggi TNI AD/Polisi).
Sejarah dan pendidikan Indonesia mengalami kegelapan disaat Rektor UI dijabat oleh jendral TNI AD yaitu Nugroho Notosusanto. Hari lahir Pancasila diabaikan, sejarah nasional dijungkir balikan: nama2 jalan besar diseluruh kota besar di Indonesia harus memakai nama jendral AD (Yani, Tendean, dst), peran BK diminimalkan, peran militer di blow up, peran inteligensia/kecerdasan disempitkan, dan wawasan almamater (pembungkaman kampus) dilaksanakan.
Para pelacur intelektual  sungguh banyak, mereka ini telah ikut serta menenggelamkan Indonesia, sudah saatnya mereka mengalami hukuman sosial dengan membeberkan dosa-dosa terselubung mereka! Prof. Ismail Suni, Yusril, Jimmly Asidiqi, Miranda Gultom, Anwar Nasution, Nazarudin, dst., adalah termasuk para konspiran. Pada umumnya, mereka ditokohkan terlebih dahulu melalui televisi sebagai intelektual yang kritis (politik kambing putih); kemudian setelah beberapa bulan dan telah mempunyai reputasi nasional, maka mereka diselundupkan/disusupkan dan diangkat menjadi pejabat penting regim ORBA (dan bablasannya) dalam pemerintahan (eselon 1, 2, atau menteri). Konspirasi destruktip USA-Militer-UI yang berhasil menusuk Bung Karno dari belakang (kupdeta yang merangkak) menjadikan Indonesia hingga kini terjebak dalam berbagai krisis dan sulit kembali menjadi bangsa yang sehat sehat.
Dalam perkembangannya, Soeharto dan regim penerusnya tidak hanya menggunakan UI, melainkan juga memanfaatkan para pelacur intelektual dari: ITB, UGM dan IPB dan berbagai kampus untuk melahirkan pelacur pelacur Intelektual . Melalui program NKK, Normalisasi Kehidupan Kampus pada zaman Daoed Joesoef, melalui program SKS , sistem kredit semester , pengebirian lembaga-lembaga kemahasiswaan, telah berhasil menjauhkan Mahasiswa sebagai calon pemimpin masa depan dari realitas kehidupan bangsanya. Meskipun mahsiswa-mahasiswa yang kritis, tetap melakukan kontrol dan menghadapi “kadal Ijo” julukan militer yang sangat represif, namun nasib para idealis ini harus teramputasi dengan masuk daftar black list yang tidak memungkinkan mereka berkiprah membangun bangsa melalui birokrasi, sipil, militer. Sehingga bangsa ini kehilangan birokrat, teknokrat dan militer yang idealis karena sistem screening. Saat ini, para penghuni menara gading, para oportunis suhartois justru mengendalikan birokrasi, sipil, militer dan hasilnya bisa kita lihat.
Jangan Terjebak
Ada beberapa isue yang sangat strategis yang perlu kita hadapi dengan kritis dan tidak terjebak emosi. Blow Up Calon RI 1 untuk 2014 yang dictrakan oleh kelompok tertentu, yang kedua adalah Keberanian Para Loyalis Soeharto yang tetap ada di Golkar dan yang telah berdiaspora ke berbagai partai politik yang mengusulkan “Bosnya” menjadi Pahlawan Nasional tepat di hari ke 1000 (nyewu) kematiannya sekaligus tepat 1 tahun Pemerintahan SBY.
Sistem akselerasi, pemberlakuan sistem kredit semester (SKS) bagi anak-anak SMA akan semakin menjauhkan remaja-remaja bangsa Indonesia sebagai penerus kepemimpinan bangsa dari peduli pada kehidupan bangsa. SKS pada siswa SMA merupakan pengamputasian idealisme remaja sejak dini. Kita semakin sulit menemukan siswa-siswa yang punya kepemimpina ideal untuk berbangsa karena semakin langka organisasi-organisasi pelajar di luar sekolah tempat menggemleng kepemimpinannya. Sementara di sekolah mereka kian ditekan dengan belajar melalui akselerasi dan SKS.
Jika mereka (Soehartois, mafia Barclay dan Pelacur 2 Intelektual) tetap menjadi antek-antek neokolonial dengan tidak peduli pada masa depan bangsa, maka sudah seharusnya semua pemuda, semua aktivis dan semua komponen bangsa perlu segera mengambil langkah yang benar, untuk kembali menjadi bangsa yang besar !

Pemuda Indonesia Kehilangan Ruh Perjuangan

Pemuda Indonesia dinilai kehilangan ruh perjuangan karena sistem kepemudaan yang belum fokus dan banyak terpengaruh oleh birokrasi politik. Kondisi tersebut membuat idealisme para pemuda tergadai secara tidak langsung dan merubah pergerakan.
Kritikan tersebut mengemuka saat refleksi gerakan pemuda Indonesia, yang diselenggarakan organisasi kepemudaan,LS-ADI, KM-AI, PMII, karang taruna 7 bintang dan berbagai elemen pemuda lainnya pada hari Rabu (3/42008) di Aula utama Kopertais, Jakarta.
Ahmad Rizal AFF, aktivis Lingkar Studi-Aksi untuk Demokrasi Indonesia (LS-ADI) Jakarta dan Komite Mahasiswa Anti Imperialisme (KM-AI) menjabarkan secara singkat namun detail tragedi-tragedi sejarah sejak masa perjuangan hingga masa pasca reformasi untuk menggugah kembali semangat pergerakan para pemuda dan kembali pada arah tujuan pergerakan.
Dalam forum refleksi tersebut, beberapa kritikan pedas sempat muncul dari beberapa pihak, diantaranya Azhari, aktivis PMII. Ia menyatakan, jika ormas-ormas atau lembaga dari gerakan masyarakat bersatu, maka akan ada beberapa pihak yang terganggu dan tidak suka serta pada akhirnya menggulirkan isu untuk menghantam mereka.
“misalnya saja isu politisasi, isu soal permainan dan lain sebagainya hingga akhirnya tidak ada gerakan yang cukup fundamental dan tidak bersatu.” sebut pengurus LBH NU ini menanggapi mandulnya gerakan pemuda saat ini.
Refleksi yang dilangsungkan menjelang Hari Raya Idul Adha ini diharapkan mampu menggugah semangat pergerakan dari para peserta refleksi dan para pemuda diseluruh Indonesia.
Sementara itu, Rahmansyah, salah seorang perserta dari Karang Taruna 7 Bintang merasa kurang puas dengan hasil diskusi refleksi tersebut. Ia menyatakan, diskusi yang dilakukan tersebut hanya kulitnya saja.

“Yang terpenting adalah aktivitas pergerakannya, selama ini pergerakan-pergerakan pemuda banyak sekali yang dijadikan alat oleh kepentingan-kepentingan politik yang tidak jelas, sementara mereka tidak sadar itu.” tandasnya.
Lebih lanjut Rahman mengatakan, pemuda harus berdaya agar mampu melaksanakan amanat sebagai generasi penerus bangsa. “yang terpenting saat ini adalah kreatifitas, para pemuda harus memupuk kreatifitas mereka untuk berkarya.” tegas Rahman mengakhiri pembicaraan. (Rita Zahara)
Tantangan Pemuda Masa Kini
Pegiat politik di Partai Demokrat
   Pada peringatan hari Sumpah Pemuda ke-80, Presiden SBY menegaskan hal yang mendasar tentang posisi pemuda sebagai subyek sejarah Indonesia. Pemuda harus menjadi pelaku aktif dan kritis guna mewujudkan Indonesia menjadi negara maju dan disegani negara lain. Pemuda musti mempersiapkan diri dengan memperbanyak ilmu pengetahuan, memperkuat mental, fisik, serta menciptakan karakter kepribadian yang kuat agar dapat menjaga persatuan, kesatuan,
dan martabat bangsa.
   Penegasan presiden tersebut adalah harapan dan sekaligus pengakuan bahwa eksistensi, kemampuan, kiprah, dan peran pemuda sangat menentukan masa depan bangsa. Wajah Indonesia masa depan sebagian tergambar pada potret para pemuda masa kini. Eksistensi Indonesia masa depan sangat tergantung pada kekuatan kolektif pundak para pemuda untuk memanggulnya. Itulah posisi strategis pemuda dalam arus sejarah bangsa.
   Jelas bahwa eksistensi pemuda tidak hadir pada ruang yang kosong. Kiprah dan peran pemuda adalah produk interaksi dengan realitas dan tantangan faktual yang dihadapi masyarakatnya. Karena itu, pemuda harus melawan jeratan mitos-mitos kebesaran, bahwa perannya selalu penting, tinggi dan berada di puncak-puncak kejadian penting sejarah perjalanan bangsa. Pemuda harus secara sadar keluar dari sosok mitologis itu.
   Sejarah memang penting. Bangga kepada masa silam adalah sesuatu yang seharusnya dan menjadi bagian dari rasa  hormat kepada para pendahulu. Tetapi yang lebih penting adalah melanjutkan sejarah dengan pahatan-pahatan sejarah baru yang lebih baik dan mengesankan. Para pemuda harus menjadi sosok historis yang mau dan mampu menjadi actor perputaran kemajuan bangsa, guna melanjutkan etape-etape perjalanan bangsa yang telah dirintis oleh para pendahulu. Rintisan sejarah, tumpahan keringat, darah dan air mata pada pendahulu musti dilanjutkan dengan penuh kesungguhan dan tanggung jawab.
   Bagaimana mampu menjadi sosok historis itu? Tentu dengan membekali diri secara cukup untuk mampu tampil sebagai sosok pemuda Indonesia masa kini. Pertama, menjadi generasi yang berkomitmen kepada rakyat, bangsa, dan negara. Komitmen itu dilandasi oleh idealisme, cita-cita, dan militansi untuk menjadi anak-anak bangsa yang terbaik dan berfaedah bagi kemajuan bangsa dan kesejahteraan rakyat. Para pemuda adalah generasi yang tidak memikirkan dirinya sendiri, tetapi memikirkan dan memerankan tanggung jawab sebagai anak-anak rakyat dan putra-putra bangsa yang sejati. Peran dan tanggung jawab sosialnya tampak nyata dan dirasakan orang banyak.
   Kedua, menjadi generasi yang berkompeten. Tantangan dunia baru yang penuh dengan kompetisi hanya bisa dijawab dengan kompetensi: kemampuan dan kesanggupan untuk mendapatkan peran berdasarkan prestasi dan karya nyata. Bukan bersandar dan bergantung kepada para senior dan orang tua. Para pemuda adalah generasi baru yang mampu menghadapi persaingan dengan bekal kemampuan pribadi yang cukup dan prestasi yang obyektif. Prestasi lebih menonjol ketimbang askripsi.
   Ketiga, menjadi generasi yang tetap menjunjung tinggi pluralisme. Para pemuda bukan saja tetap menyadari dan menghormati realitas keindonesiaan yang majemuk dan penuh dengan kepelbagaian, tetapi bahkan makin sanggup untuk hidup dalam damai, harmoni, serta penuh dengan kerjasama dan kebersamaan. Semangat Bhinneka Tunggal Ika tetap dipegang teguh sebagai panduan dalam pergaulan nasional. Para pemuda adalah genenasi baru yang kepribadiannya tidak akan pernah terbelah oleh realitas dan tantangan kemajemukan Indonesia, dan justru malah menjadi salah satu tali kesadaran yang mengikat keindonesiaan kita.

   Keempat, menjadi generasi yang optimis. Para pemuda bukan saja perlu konsisten dengan orientasi dan berpandangan jauh ke depan, tetapi juga memegang teguh optimisme. Pesimisme adalah halangan mentalitas bagi kemajuan bangsa, dan bahkan bisa menjadi beban. Bangsa yang bercita-cita terus maju menjadi maju, modern dan bermartabat perlu menata konstruksi mentalitas positif,  yakni optimisme. Dengan optimisme, sebagian masalah sudah terjawab. Sebaliknya, dengan pesimisme, peluang sebaik apapun tidak akan dapat didayagunakan. Para pemuda adalah generasi baru yang menatap dan berjuang untuk masa depan dengan berani dan penuh optimisme. Tidak ada halangan dan tantangan yang tidak sanggup dijawab.
   Kelima, menjadi generasi yang berakhlak dan relijius.  Para pemuda bukan saja dituntut untuk berkomitmen kepada bangsa, berkompetensi tinggi, berpendirian pluralis dan selalu dipandu dengan optimism, tetapi juga membutuhkan bangunan akhlak pribadi yang baik dan berketuhanan. Akhlak sosial dalam bentuk peduli dan bertanggung jawab kepada rakyat, bangsa dan negara juga perlu dibarengi dengan akhlak pribadi yang terpuji. Basis dari akhlak pribadi dan
akhlak sosial itu adalah nilai-nilai relijius yang dipegang oleh rakyat Indonesia, serta bukan generasi yang sekuler. Sekulerisme harus dijauhkan dari kehidupan generasi muda bangsa. Para pemuda adalah generasi baru yang percaya kepada Tuhan Yang Maha Kuasa dan kemudian mendirikan nilai-nilai Ketuhanan itu dalam pribadinya dan kehidupan sehari-hari.
   Lima hal pokok itulah yang sekurang-kurangnya harus menjadi potret pemuda Indonesia masa kini dan masa depan. Dengan demikian, para pemuda bukan menjadi pemuja sejarah kebesaran, tetapi menjadi pelanjut sejarah bangsa yang makin maju dan bermartabat. Para pemuda adalah sosok historis yang sanggup menjadi turbin besar penggerak kemajuan menuju Indonesia yang makin aman dan damai, adil dan demokratis, serta sejahtera. Wallahu a’lam []  






 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar